Menyimak Dialog Kang Dedi Mulyadi dan Prof. Bagus Mulyadi Menyimak dialog Kang Dedi Mulyadi dengan Prof. Bagus Setiadi yang muncul di akun YouTube KDM, Kembali terkuak kecemasan KDM terhadap kondisi Alam dan Lingkungan Jawa Barat yang tergerus dengan perubahan pola pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan daya dukung ruang itu sendiri. Banyak Embung-embung / Danau / Situ yang sudah hilang, Rawa-rawa yang sudah menjadi daratan, Sungai yang semakin mengecil, permukiman di lahan curam / gawir dll. Dalam dialog tersebut juga di diskusikan ketika daerah terbebani oleh kegiatan-kegiatan yang bersifat kepentingan umum, daerah tersebut tidak mendapat konpensasi yang jelas, seperti daerah yang mempunyai Hutan yang luas sebagai penghasil oksigen dan menjaga kandungan air tanah konpesasinya terhadap daerah belum jelas. Daerah yang merupakan penghasil Listrik tapi masih ada Masyarakat di sekitarnya yang belum teraliri Listrik. Perubahan-perubahan Pemanfaatan ruang tersebut seolah-olah mengabai...
(Dalam persepsi menjalankan keberanian berbasis kearifan local Sunda) ( Penulis : Yoga Rukma Gandara, ST., MT). Pemerhati Perkotaan Lembur di Urus, Kota di Tata…… Itulah slogan yang di usung Kang Dedi Mulyadi mulai dari Pencalonan Wakil Gubernurd dulu sampai pencalonan Gubernur baik itu Ketika berpasangan dengan Dedy Mizwar dulu Ketika tahun 2018 dan kemarin dengan Kang Erwan pada tahun 2024. Lembur dan Kota konsisten menjadi perhatian Kang Dedi Mulyadi (KDM) sejak mulai Kampanye. Sejauh mana kiprah KDM setalah mejalani kepemimpinan sebagai Gubernur dalam mewujudkan Lembur di Urus, kota di Tata. Tulisan kali ini penulis mencoba melihat persepsi Keberanian KDM dalam menata Kota dikaitkan dengan keberanian berbasis kearifan local sunda, karena KDM seperti yang kita ketahui selalui membawa bendera-bendera kasundaan dalam kehidupan sehari harinya maupun gaya kepemimpinannya. Seperti yang kita ketahui bahwa banyak sekali yang berkepentingan dengan sebuah Kota, mulai dari Masyaraka...