Langsung ke konten utama

MEJAGA KARAKTER JIWA KOTA DITENGAH GEMPURAN HOMOGENISASI DAN KOMERSIALISASI PERKOTAAN

 

Seiring dengan perkembangan Jaman, Kota sebagai salah satu tempat bertumbuh kembang Masyarakat juga mengalami perkembangan. Banyak kota-kota lama yang berkembang sesuai dengan pertambahan jumlah penduduk ataupun pertambahan kegiatan perekonomian perkotaan dan tidak sedikit muncul Kota-kota baru yang bermunculan akibat kebutuhan Masyarakat tersebut. Perkembangan kota baik kota lama yang terus berkembang maupun kota-kota baru pada Era sekarang ini sayangnya cenderung berkembang tanpa diiringi oleh karakteristik kota tersebut. Dengan alasan Internasional Style ataupun alasan lain, kadang-kadang perkembangan suatu kota tidak mempunyai kekhasan dalam karakteristik kota tersebut, apalagi di era digital sekarang ini kadang-kadang perkembangan kota juga seperti copy paste dengan kota-kota lain yang sudah berkembang.

Seperti apa sih kota berkarakter tersebut ? sebelumnya akan dibahas sedikit mengenai Kota yang berkarakter sesuai dengan pendapat beberapa pakar perkotaan.

Dalam studi desain perkotaan (urban design) yang berfokus pada pembangunan kota berkelanjutan dan layak huni, dikenal prinsip "7 C" yang dikembangkan oleh Urban Design Protocol (sering dirujuk dalam literatur perencanaan kota modern, termasuk konteks New Zealand dan panduan desain urban). Dalam prinsip tersebut Karakter menjadi salah satu prinsip penting dalam penataan kota.

Prinsip 7 C tersebut adalah:

  1. Context (Konteks): Penataan kota harus mempertimbangkan lingkungan sekitar, termasuk sejarah, budaya, dan kondisi fisik alamiah lokasi untuk memastikan harmoni.
  2. Character (Karakter): Menciptakan lingkungan yang memiliki identitas unik, menarik, dan menonjolkan ciri khas lokal, bukan kota yang seragam.
  3. Choice (Pilihan): Menyediakan berbagai pilihan, baik dalam hunian, moda transportasi, maupun ruang publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam.
  4. Connections (Koneksi/Keterhubungan): Membangun jaringan jalan dan ruang yang saling terhubung, memudahkan pergerakan manusia, dan ramah pejalan kaki.
  5. Creativity (Kreativitas): Mendorong pendekatan inovatif dan desain yang kreatif dalam memecahkan masalah perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup.
  6. Custodianship (Pengelolaan/Tata Kelola): Mengutamakan keberlanjutan lingkungan dan memastikan ruang publik dirawat dengan baik untuk generasi mendatang.
  7. Collaboration (Kolaborasi): Melibatkan masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam proses perencanaan agar kota inklusif. 

 

Penataan kota berkarakter mengintegrasikan identitas budaya lokal, kondisi geografis, dan prinsip berkelanjutan untuk menciptakan ruang yang fungsional, estetis, dan inklusif. Fokusnya mencakup penguatan landmark unik, efisiensi tata guna lahan, konektivitas yang baik, serta pemberdayaan masyarakat, guna menciptakan lingkungan yang nyaman, tangguh bencana, dan berdaya saing tinggi. 

Berikut adalah elemen utama dalam penataan kota berkarakter:

  • Identitas Lokal dan Kultural: Menonjolkan arsitektur khas, sejarah, atau elemen fisik (misalnya kota sungai, kota pesisir) yang menjadi keunikan wilayah tersebut.
  • Keberlanjutan Lingkungan: Menerapkan manajemen DAS terpadu, ruang terbuka hijau, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
  • Desain Inklusif dan Manusiawi: Kota yang ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Walaupun Karakter suatu daerah menitik beratkan Eklusif pada ciri khas daerah tersebut akan tetapi prinsip-prinsip Inklusif dalam dan manusiawi dalam design sarana prasarana kota harus tetap dikedapankan.
  • Konektivitas dan Aksesibilitas: Desain jalan dan moda trasportasi yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, dan mobilitas penduduk.
  • Partisipasi Publik: Melibatkan masyarakat dalam perencanaan untuk memastikan pembangunan sesuai kebutuhan sosial-ekonomi. 

Penataan yang berkarakter mengubah kota bukan sekadar menjadi tempat tinggal, melainkan identitas peradaban yang beradab dan produktif. 

Penataan kota berkarakter adalah strategi perencanaan wilayah yang menitikberatkan pada pembentukan identitas dan keunikan visual serta sosial yang membedakan satu kota dengan kota lainnya. Proses ini melibatkan integrasi elemen sejarah, budaya lokal, dan kondisi geografis ke dalam infrastruktur fisik kota. 

Manfaat Penataan Kota Berbasis Karakter

  • Keunggulan Kompetitif: Membangun city branding yang kuat untuk menarik investasi dan pariwisata.
  • Ketahanan Sosial: Mengurangi stres penduduk dengan menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi dan nyaman.
  • Keberlanjutan: Menyeimbangkan antara pembangunan fisik dengan pelestarian lingkungan alam. 
  • Identitas Kota : Keunikan karakteristik fisik, sosial, budaya, dan historis yang membedakan satu kota dengan lainnya, sering kali membentuk citra (image) kuat di benak masyarakat.

Kendala Kota Berkarakter

Membangun kota berkarakter di Indonesia menghadapi tantangan kompleks yang melampaui sekadar pembangunan fisik. Membangun kota berkarakter yang memiliki identitas, keunikan budaya, dan tata ruang yang khas Kendala utamanya sering kali berakar pada ketidakseimbangan antara modernisasi yang pesat dan upaya pelestarian identitas lokal.  Kendala ini mencakup aspek fisik, sosial, budaya, hingga tata kelola. 

Berikut adalah beberapa kendala utama dalam mewujudkan kota berkarakter:

1. Tata Kelola dan Regulasi

  • Kurangnya Integrasi Penataan: Sering kali tidak ada integrasi yang kuat dalam pengelolaan kota; berbagai instansi cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa visi karakter yang seragam.
  • Dominasi Keputusan Politik: Perencanaan tata ruang lebih banyak dipengaruhi oleh keputusan politik jangka pendek daripada visi estetika atau karakter budaya jangka panjang.
  • Lemahnya Penegakan Hukum: Ketidaktegasan hukum terhadap pelanggaran tata ruang membuat elemen-elemen karakter kota sering tergusur oleh kepentingan komersial. 

2. Tekanan Urbanisasi dan Infrastruktur

  • Pertumbuhan Penduduk yang Pesat: Laju urbanisasi yang tinggi memberikan tekanan besar pada infrastruktur (transportasi, sanitasi, hunian), sehingga pemerintah lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar daripada aspek estetika kota.
  • Dehumanisasi Lingkungan: Pengabaian aspek sejarah dalam pembangunan gedung-gedung modern menyebabkan kota kehilangan identitasnya dan terasa asing bagi penghuninya. 
  • Alih Fungsi Lahan: Pertumbuhan penduduk yang cepat memaksa konversi lahan budaya/sejarah menjadi permukiman atau kawasan komersial, menghilangkan jejak historis kota.

3. Sosial dan Budaya

  • Gempuran Budaya Luar: Globalisasi menyebabkan karakter lokal terkikis oleh budaya asing yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai asli daerah tersebut.
  • Krisis Identitas Generasi Muda: Kurangnya literasi budaya dan dominasi tren digital membuat upaya pelestarian tradisi sebagai basis karakter kota menjadi semakin sulit.
  • Sifat Individualisme: Masyarakat perkotaan cenderung memiliki sifat individualis dan rasional yang tinggi, sehingga semangat gotong royong dalam menjaga karakter lingkungan sering kali memudar. 

4. Strategi Branding yang Belum Optimal

  • Branding yang Tidak Konsisten: Banyak kota gagal membangun karakter karena tidak memiliki positioning yang jelas dan hanya fokus pada tampilan luar tanpa memperkuat nilai (value) budaya di dalamnya.
  • Hambatan Komunikasi: Sering terjadi kegagalan dalam mengomunikasikan visi "kota berkarakter" dari pemerintah kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. 

5. Homogenisasi dan Hilangnya Identitas Budaya

  • "Kota Seragam" (Uniformity): Banyak kota kehilangan identitas lokal karena mengadopsi gaya arsitektur modern/internasional yang sama (gedung kaca/beton), sehingga kota terlihat seragam dan kehilangan keunikannya.
  • Individualisme Masyarakat: Masyarakat kota cenderung individualis dan rasional, membuat upaya pelestarian budaya atau ruang publik yang kental karakter lokal sulit mendapatkan partisipasi aktif. 

6. Tekanan Ekonomi dan Lingkungan

  • Komersialisasi Ruang: Tekanan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sering kali memprioritaskan pembangunan mal atau gedung perkantoran daripada pelestarian cagar budaya.
  • Kerusakan Lingkungan: Ancaman banjir, polusi udara, dan penurunan muka tanah di kota-kota besar (seperti Jakarta, Bandung, Surabaya) memaksa fokus ke penanganan darurat daripada estetika kota. 

Contoh Kota Berkarakter di Indonesia

Beberapa kota di Indonesia telah berhasil menonjolkan identitas khasnya melalui penataan tertentu:

  • Solo: Dikenal dengan karakter budaya Jawa yang kental melalui penataan area pejalan kaki dan pasar tradisional.
  • Samarinda (Distrik Makroman): Mulai menerapkan konsep Kota Sungai yang menyesuaikan dengan kondisi geografis tepian sungai.
  • Malang: Baru-baru ini ditetapkan sebagai Kota Kreatif UNESCO di bidang Media Arts karena ekosistem kreatifnya yang kuat.
  • Kuala Kencana (Papua): Contoh kota modern yang berkarakter ramah lingkungan dan tertata rapi di tengah hutan. 

Karakter Kota di Jawa Barat

Lalu bagaimana di Jawa Barat, seperti apa Karakter kota-kota di Jawa Barat ?

Jawa Barat sebagai salah satu propinsi di Indonesia perkembangan perkotaanya cukup signifikan karena Propinsi Jawa Barat merukan Propinsi yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, serta banyak sekali kegiatan-kegiatan yang berdampak pada perkembangan perkotaan, baik itu kegiatan industri, perdagangan, pariwisata, budaya maupun permukiman. Di sisi lain Propinsi Jawa Barat yang mempunyai bentang alam yang subur, indah dan juga banyak pergunungan memberikan warna yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia.   Sejauh mana pengaruh tersebut memberikan karakter pada kota-kota di Jawa Barat. Secara sederhana mungkin kita dapat membuat kluster kota-kota di jawa barat sebagai Berikut :

  • Kota Pesisir : Cirebon, Indramayu, Pangandaran, Sukabumi
  • Kota Pendidikan : Bandung, Depok, Bogor
  • Kota Budaya/Sejarah : Bandung (Paris Van Java), Cirebon (Kota Wali), Tasikmalaya (Kota Santri), Garut (Swis VanJava)4.      Kota Wisata : Bandung Barat (Lembang), Cianjur,
  • Kota Pertanian : Subang (Lumbung Padi), Bandung Barat (Sayuran & Bunga), Ciamis, Cianjur
  • Kota Industri : Bekasi, Karawang, Purwakarta
  • Kota Perdagangan : Bandung, Bekasi, Bogor, Cirebon
  • Kota Kerajinan : Tasikmalaya (kerajinan tangan & Bordir), Garut (produk kulit & dodol)
  • dll

Seperti yang penulis sampaikan karakter kota pada akhirnya akan memberikan manfaat dengan terbentuknya city branding Kota tersebut. City Branding Kota tersebut seharusnya bisa menjadi alat untuk meningkatkan daya jual kota tersebut yang pada akhirnya kota sebakin berkembang sesuai dengan karakteristik masing-masing kota.

Secara umum Kota-kota di Jawa Barat ini pada masa sekarang berkembang Tanpa memperhatikan Potensi atau Ciri khas kota tersebut, sehingga kota di Jawa Barat berkembang tanpa memiliki karakter yang kuat dari masing-masing kota. Malah cenderung kota berkembang tergantung pada siapa yang akan berinvestasi di kota tersebut, misalnya banyak Perumahan yang dibangun oleh grup properti yang cukup besar di Indonesia lebih mementingkan brand Image/karakter Perusahaan property tersebut. Sehingga cenderung dimanapun Properti persebut ber investasi bentuk dan konsep perumahannya juga sama. Atau Ketika suatu kota booming dengan kegiatan wisata/ekonomi tertentu, maka di kota lain dibuat kegiatan yang sama dengan gaya arsitektur sama sehingga terkesan sama dan seragam. Di Jawa Barat belum banyak Daerah yang mempunyai perda tentang Arsitekrtur Khas Daerah tersebut, yang sudah punyapun kadang kadang hanya diterapkan kebangunan milik pemerintah sedangkan milik swasta masih belum tersentuh.

Yang menarik Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) mencoba membuat gebrakan dengan membuat kebijakan penataan kota sesuai dengan kewenangan nya sebagai Gubernur. KDM mencoba menata jalan Propinsi dengan kualitas baik termasuk PJU nya yang khas (Jalan/path dalam teori identitas kota kevin linch merupakan salah satu elemen identitas kota). Kemudian KDM juga mencoba membuat gerbang batas kota dengan unsur arsitektur lokal Jawa Barat. KDM juga menata Sungai dan DAS nya menjadi lebih indah dan bersih sesuai fungsinya sebagai Jalur Air (salah satu penerapan Konsep Patanjala), dan mudah-mudahan kebijakan lain dari Gubernur yang akan memperkuat Karakter Kota-kota di Jawa Barat dan juga mudah-mudahan diikuti oleh para Bupati dan Walikota di Jawa Barat, sehingga Slogan Jawa Barat Istimewa bisa terwujud.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRINSIP KEARIFAN LOKAL KASUNDAAN DALAM IMPLEMENTASI PENATAAN RUANG DI JAWA BARAT

Bubuka Konsep kearifan lokal dalam kehidupan Masyarakat Sunda pada jaman dahulu khususnya nilai-nilai dalam penerapan pembangunan kampung/tempat tinggal merupakan nilai-nilai kearifan yang sangat memperhatikan lingkungan/alam. Masyarakat Sunda pada waktu itu menjungjung tinggi kelestarian lingkungan dengan menempatkan alam/lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam bertempat tinggal atau dalam membangun perkampungan. Seiring dengan perkembangan jaman pada masa sekarang dimana Kawasan terbangun cukup pesat pembangunannya, apakah Pembangunan Kawasan terbangun di Jawa Barat dalam implementasinya memperhatikan aspek konsep kearifan lokal kasundaan sebagai salah satu acuan dalam pembangunannya atau sama sekali tidak memperhatikan aspek kearifan lokal tersebut. Atau pertanyaannya masih adakah pemanfaatan ruang di Jawa Barat yang memperhatikan aspek kearifan lokal nilai-nilai kasundaan mengenai pemanfaatan ruang. Akhir-akhir ini masalah kearifan loca...

APA KABARNYA CITY BRANDING BANDUNG BARAT, siapkah PENGGERAK EKONOMI BANDUNG BARAT MEMBRANDING ?

BUBUKA   Bandung Barat sebagai sebuah Kabupaten sebentar lagi akan memperingati hari jadi yang ke-18, tepatnya tanggal 19 Juni 2025. Usia 18 bagi sebuah daerah memang usia yang belum begitu lama, akan tetapi juga bukan waktu yang sebentar kalau kita cermati perjalannannya karena sudah melaksanakan pemilihan Kepala Daerah sebanyak 4 kali. Sekarang gelar Bungsu Kabupaten di Jawa Barat telah beralih ke Kabupaten Pangandaran, sehingga kata Kabupaten Baru sudah beralih ke Kabupaten Pangandaran. Penulis mencoba untuk memahami perkembangan Bandung Barat melalui brand image atau citra kota/daerah dari aspek perkembangan kota/daerah. Sudah saatnya di usia yang ke-18 ini Kabupaten Bandung Barat mendeklarasikan brand image atau citra kota/daerah agar masyarakat secara umum bisa mengenalkan daerah tempat tinggalnya kepada khalayak umum sebagai daerah tertentu yang secara umum tentu saja citra kota/daerah tersebut harus sesuai dengan kondisi, potensi serta Sumber Daya Manusia yang ada di kabu...

KEMBALI ke PEMBANGUNAN HIJAU

Disusun oleh YOGA RUKMA GANDARA, ST.,  PROLOG   Pembangunan Hijau atau Green Development sudah di dengungkan oleh para ahli Pembangunan pada tahun 2000 an. Hal ini dilatarbelakangi oleh Pembangunan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan aspek lingkungan serta mengeksploitasi alam secara membabi buta atau tanpa memperdulikan aspek keberlanjutan. Pembangunan Hijau ini sangat berkaitan dengan Pembangunan Keberlanjutan. Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yang menjadi kunci dalam pelaksanaannya yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan (Outcome of UN World Summit, 2005). Pembangunan hijau adalah pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Pembangunan hijau dapat berupa bangunan hijau, ekonomi hijau, dan infrastruktur hijau. Sebetulnya Pembangunan di Indonesia sudah berusaha mengadopsi Pembangunan Hijau ini sampai dituangkan dalam kebijakan RPJMN maupun RPJPD. Bappenaspun sudah membuat berapa kajian mulai dari Perencanaan Hijau maupun Pelaksanaan Pe...