Langsung ke konten utama

APA KABARNYA CITY BRANDING BANDUNG BARAT, siapkah PENGGERAK EKONOMI BANDUNG BARAT MEMBRANDING ?

BUBUKA 

Bandung Barat sebagai sebuah Kabupaten sebentar lagi akan memperingati hari jadi yang ke-18, tepatnya tanggal 19 Juni 2025. Usia 18 bagi sebuah daerah memang usia yang belum begitu lama, akan tetapi juga bukan waktu yang sebentar kalau kita cermati perjalannannya karena sudah melaksanakan pemilihan Kepala Daerah sebanyak 4 kali. Sekarang gelar Bungsu Kabupaten di Jawa Barat telah beralih ke Kabupaten Pangandaran, sehingga kata Kabupaten Baru sudah beralih ke Kabupaten Pangandaran. Penulis mencoba untuk memahami perkembangan Bandung Barat melalui brand image atau citra kota/daerah dari aspek perkembangan kota/daerah. Sudah saatnya di usia yang ke-18 ini Kabupaten Bandung Barat mendeklarasikan brand image atau citra kota/daerah agar masyarakat secara umum bisa mengenalkan daerah tempat tinggalnya kepada khalayak umum sebagai daerah tertentu yang secara umum tentu saja citra kota/daerah tersebut harus sesuai dengan kondisi, potensi serta Sumber Daya Manusia yang ada di kabupaten Bandung Barat, sehingga citra kota/daerah tersebut bukan hanya sebagai lipc service saja tetapi betul-betul menggambarkan wajah sesungguhnya Kabupaten Bandung Barat. Selam ini dalam kurun waktu 18 tahun belum ada Kepala Daerah Bandung Barat yang mendeklarasikan mengenai Citra Kota/daerah atau Jatidiri Kabupaten Bandung Barat.

Kemudian mengapa penulis dalam judul tulisan ini mengajak Penggerak Ekonomi (KADIN, APINDO, PHRI, HKTI, KOPERASI, PETANI, PETERNAK, PENGUSAHA PARIWISATA, dll) tidak saja kepada pihak Pemerintah? Hal ini di sebabkan karena memang sekarang ini pemerintah sedang disibukan dengan penyusunan perencanaan secara administrative mulai RPJPD, RPJMD dan RENJA yang sudah dibatasi dengan templet-templet yang sudah diberikan oleh pemerintah pusat (walaupun dalam beberapa kesempatan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan perlu berpikir Out Of The Box dalam menjalankan roda pemerintahan), pemerintah daerah juga sedang disibukan oleh permasalahan infrastruktur yang berkaitan dengan kebutuhan dasar Masyarakat seperti Jalan, air bersih, sanitasi, Kesehatan, Pendidikan, dll. Selain dari pada itu Visi Misi Kepala Daerah terpilih sudah terlanjur disusun pada waktu kampanye sehingga seolah-olah terkunci oleh ketentuan administatif yang ada. Tentu saja Visi Misi Kepala Daerah Terpilih sangat dipengaruhi oleh janji-janji Politis pada waktu kampanye dulu. Oleh karena itu diperlukan Kolaborasi antara Penggerak Ekonomi di Kabupaten Bandung Barat dengan Pemerintah Daerah, sehingga pembuatan Citra Kota/Daerah  ini bisa di laksanakan oleh semua pihak sesuai kewenangan dan kemampuan masing-masing.  

Salah satu pendekatan dalam menentukan brand image, Citra atau Jatidiri Kota/Daerah adalah melalui pendekatan City Branding. Pendekatan City Branding pada awalnya dipakai oleh beberapa orang agar kota/daerah yang ditingalinya bisa dipasarkan pada pelaku ekonomi sesuai dengan teori awal mengenai Branding sebuah produk. Teori mengenai branding suatu produk/barang ekonomi diterapkan dalam perekonomian daerah/wilayah, sehingga daerah/wilayah tersebut mempunyai nilai lebih untuk dimanfaatkan secara ekonomi. Dalam penetapan City Branding tersebut tentu saja kita harus melihat Kegiatan Sektor Unggulan yang bisa menjadi Generator/pembangkit kegiatan Ekonomi Daerah sehingga akan membawa pada peningkatan produktifitas daerah yang pada akhirnya akan membawa pada peningkatan pendapatan/kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Bandung Barat. Karena sangat erat dengan kegiatan perekonomian daerah maka penulis mengajak penggerak ekonomi (KADIN, APINDO, PHRI, HKTI, KOPERASI, PETANI, PETERNAK, PENGUSAHA PARIWISATA, dll) untuk menjadi Penggagas dalam penetapan City Branding Bandung Barat.

 

APA ITU CITY BRANDING ?

1.    CITY BRANDING SEBAGAI PERWUJUDAN EKONOMI DAERAH

Beberapa Teori mengenai City Branding antara lain :

City Branding merupakan strategi pemasaran kota dengan tujuan untuk memperkuat hubungan dan membangun citra baik kota dengan pengunjung. Adapun tujuan lain dari City Branding adalah untuk membangun sebuah citra positif suatu tempat dan untuk membedakan tempat tersebut dengan pesaingnya. Strategi City Branding dapat dianggap sebagai salah satu tindakan strategi yang dikelola oleh pemerintah karena untuk mempromosikan suatu tempat.

City Branding atau branding kota merupakan perangkat baru dalam pembangunan wilayah untuk meningkatkan daya saing menghadapi kompetisi global. Sebagai perangkat, branding kota adalah kelanjutan dari pemasaran tempat (place marketing), yang telah dilakukan banyak kota - kota dunia. Branding dan pemasaran tempat berkembang sejalan dengan globalisasi.

Konsep City Branding pertama kali diutarakan oleh Simon Anholt dalam bukunya berjudul Brand New Justice pada 2003. Menurut Simon, city branding ialah gagasan mengenai aplikasi sebuah identitas yang biasanya digunakan untuk suatu produk, menjadi sebuah identitas tempat (place branding) yang diinginkan oleh para pemangku kepentingan terkait, dan menjadi nilai lebih dalam pandangan seorang konsumen.

City Branding merupakan salah satu konsep dari branding. Branding merupakan sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan mengembangkan suatu produk (potensi daerah).

City branding telah menjadi strategi bagi pemerintah kota dan daerah di berbagai penjuru dunia untuk meningkatkan citra kota mereka bagi masyarakat global (Kavaratzis & Hatch, 2013; Lucarelli & Olof Berg, 2011; Riza et al., 2012). City branding dianggap sebagai instrumen strategis untuk mempublikasikan keunggulan kompetitif kota, menjadi praktik umum untuk memasarkan sejarah kota, kualitas tempat, gaya hidup, dan budaya untuk peluang, prestise atau kekuatan dalam akumulasi modal dalam lingkungan yang kompetitif. Secara terminologi, city branding dipahami dalam konteks manajemen pemasaran. Menurut Kavaratzis (2005) city branding merupakan strategi yang sengaja dirancang sebagai upaya untuk memasarkan kota guna memperkuat hubungan dan membangun citra yang baik antara kota dengan penduduk dan pengunjungnya. Zhang & Zhao(2009) menyatakan city branding sebagai sebuah pencitraan merek kota adalah praktik umum yang diadopsi oleh banyak kota dalam konteks persaingan perkotaan yang intensif untuk pemanfaatan sumber daya, pasar, peluang, dan perhatian.

Sedangkan menurut Menurut Kotler & Keller (2009) city branding merupakan strategi tata cara berkomunikasi yang tepat untuk membangun merek kota, daerah, masyarakat yang tinggal di dalamnya berdasarkan keunikan mereka. Sedangkan menurut Miller & Barbour (2014) city branding adalah bagian dari merek tempat yang berlaku untuk kota tunggal atau wilayah keseluruhan dari sebuah negara. Gustiawan sebagaimana dikutip (Adona et al., 2017) menyatakan bahwa city branding sebagai strategi dari suatu negara atau daerah untuk membuat positioning yang kuat di dalam benak target pasar mereka sehingga negara dan daerah tersebut dapat dikenal secara luas.

Menurut Sugiarsono (2009) terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam merancang city branding, yaitu, (1) Attributes terkait karakter, daya tarik, dan personalitas kota; (2) Messages berkaitan dengan kisah atau cerita unik, berkesan, dan menyenangkan dari sebuah kota sehingga membuat publik mudah mengingatnya; (3) Differentiation terkait dengan keunikan sebuah kota yang membedakannya dengan kota lainnya; (4) Ambassadorship membujuk dan menginspirasi orang untuk datang dan ingin tinggal di kota tersebut). Artinya city branding yang dilakukan akan dapat mendorong orang untuk datang dan juga ada keinginan untuk tinggal sejenak di kota tersebut.

Moilanen (2009) mengemukakan tiga konsep utama terkait city branding yang menyangkut merek kota, yaitu, pertama Identitas yang meliputi strategi, substansi, dan simbolik. Strategi diperlukan untuk mengetahui bagaimana persepsi pemangku kepentingan terhadap suatu tempat atau kota. Substansi berkaitan dengan eksekusi dari strategi komunikasi primer terkait dengan potensi pengaruh tindakan yang dilakukan sebuah kota namun memiliki efek komunikasi yang tidak sengaja. Komponen simbolik terkait dengan substansi yang memiliki kekuatan komunikasi memiliki sifat menonjol, mudah diingat, indah, dan memiliki unsur dramatis. Kedua, Citra atau image yang berkaitan dengan semua asosiasi yang muncul di benak publik atas sebuah obyek yang dipilih dalam bentuk kegiatan, inovasi, peraturan/kebijakan, reformasi. Ketiga, Komunikasi yang berkaitan dengan proses penyampaian informasi ide dan identitas sebuah kota. Komunikasi yang dilakukan dalam city branding akan mengupayakan membangun citra dan image sebuah kota.

 

2. CITY BRANDING SEBAGAI PERWUJUDAN URBAN ENTREPREUNEURSHIP

Dalam Perspektif Pembangunan Ekonomi Daerah DIBUTUHKAN KEGIATAN EKONOMI sebagai GENERATOR/Daya Ungkit Pembangunan Daerah, berdasarkan POTENSI yang dimiliki oleh Daerah tersebut yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat. Pendekatan “KEWIRAUSAHAAN DAERAH” atau URBAN ENTREPRENEUSHIP  salah satunya adalah bagaimana agar daerah tersebut bisa berkembang kegiatan ekonominya yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. City Branding sebagai salah satu kegiatan yang muncul dari spirit kewirausahaan ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip antara lain :

  • Pendekatan ini bertujuan mengembangkan dan mendukung pembangunan ekonomi lokal dengan mendorong pertumbuhan ekonomi
  • Memaksimalkan mekanisme pasar untuk mencapai tujuan publik dengan intervensi terbatas dari sektor publik
  • Kolaborasi/Kemitraan antara Sektor Publik dan Privat.
  • Kegiatan Infrastruktur selain memenuhi kebutuhan dasar masayarakat juga harus mendukung kegiatan Ekonomi Daerah.
  • Selain Melayani kebutuhan Masyarakat juga harus Menciptakan peluang-peluang dalam meningkatkan produktifitas ekonomi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran.

CITY BRANDING selain menjadi salah satu Upaya untuk mewujudkan Kewirausahaan Daerah, sebagai Upaya meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, juga mempunyai Nilai Tambah, antara lain : 

  • Membentuk Citra/Identitas Kota
  • Promosi Kota (Investor, Wisatawan, dll)
  • Meningkatkan Daya Saing Dengan Kabupaten Tetangga
  • Melibatkan Semua Stakeholder

 

3.    CONTOH CITY BRANDING

Di kota-kota lain baik di Indonesia dan Luar Negeri pembuatan City branding ini sudah banyak dilaksanakan, contoh City Branding yang kita kenal seperti dibawah ini :



Penciptaan City Branding apabila dilihat dari proses terbagi menjadi 2 (dua) jenis :

Apabila melihat proses penciptaan City Branding tersebut, maka Bandung Barat kemungkinan termasuk kepada proses Non Organik.

4. TAHAPAN PENERAPAN CITY BRANDING DALAM TATARAN PERENCANAAN DAERAH

Tahapan pembuatan City Branding harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan Potensi serta Rencana Pengembangan ke depan. Secara garis besar tahapan yang harus dilalui, antara lain harus benar-benar menggali potensi melalui data serta persepsi Masyarakat sebagai pemakai/pengguna dari potensi yang ada. Kemudian harus melibatkan semua sektor agar branding yang akan dibangun betul-betul menjadi kesepakatan Bersama untuk diwujudkan. Dalam membranding suatu kota/daerah peran komunikasi menjadi bagian terpenting karena komunikasi ini menjadi alat  marketing ketika city branding sudah ditetapkan. Kemudian juga untuk mewujudkan City Branding diperlukan pembuatan Road Map dalam melaksanakan kegiatan untuk mewujudkan Tujuan City Branding terwudud. Secara garis besar beberapa penulis menyampaikan tahapan yang harus dilalui melalui table berikut :



Menurut Insch (Raharjo, 2015), terdapat empat langkah proses strategi City Branding, yaitu:

  1. Identity, merupakan suatu cara untuk melihat berbagai macam aspek dalam suatu Kota/Daerah yang dapat meningkatkan Branding.
  2. Objective atau penentuan tujuan City Branding. Dengan adanya Brand maka akan jelas tujuan suatu Kota dan membuat perencanaan lebih matang lagi yang dapat berpengaruh pada tumbuhnya perekonomian di Kota/Daerah tersebut.
  3. Communication, proses komunikasi, berinteraksi dengan pihak yang berkepentingan dengan sebuah Kota/Daerah.
  4. Coherence, merupakan suatu cara utnuk dapat menyampaikan suatu program komunikasi dengan baik dan terarah.

  

5. CITY BRANDING BANDUNG BARAT

Bagaimana dengan Bandung Barat? apakah yang bisa dibranding agar Potensi yang dimiliki oleh Bandung Barat bisa dipasarkan agar menjadi sebuah kekuatan Ekonomi Daerah Bandung Barat. Selama ini belum ada Kepala Daerah di Bandung Barat yang mendeklarasikan City Branding tersebut. Perlu diingat City Branding bukan sekedar membuat icon (logo) atau membuat tag line baik itu Singkatan / Akronim atau sebuah kata yang mengandung arti, akan tetapi City Branding tersebut harus bisa menggambarkan potensi yang dimiliki oleh Bandung Barat, baik itu potensi alam maupun Sumber Daya Masyarakat. Sehingga Potensi tersebut bisa dipasarkan dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi identitas/jatidiri kabupaten Bandung Barat.  Penentuan Potensi tersebut tentusaja harus berdasarkan Data serta Analisa, yang dilakukan melalui diskusi semua stakeholder seperti Masyarakat, Swasta, Akademisi, Pemerintah dan Media masa (Pentahelik).

Sebaiknya dalam Menyusun City Branding Bandung Barat dibuat Road Map agar City Branding ini betul-betul menggambarkan potensi dan peluang ekonomi di Bandung Barat. Road map city branding adalah strategi yang sistematis untuk membangun dan mengelola citra serta identitas suatu kota. Ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari penetapan visi dan misi hingga implementasi kampanye komunikasi yang efektif. Tujuan utamanya adalah menciptakan daya tarik yang kuat bagi wisatawan, investor, dan penduduk, serta membangun reputasi positif yang berkelanjutan. 

Tahapan Roadmap City Branding:

1. Analisis Situasi:

  • Evaluasi Keunggulan: Menilai kekuatan dan kelemahan kota, termasuk potensi pariwisata, ekonomi, budaya, dan infrastruktur.
  • Identifikasi Target Pasar: Menentukan siapa yang ingin dilibatkan, seperti wisatawan, investor, atau penduduk potensial.
  • Analisis Persaingan: Memahami bagaimana kota-kota lain memposisikan diri dan membangun citra.

2. Penyusunan Visi dan Misi:

  •  Visi: Menentukan tujuan jangka panjang kota terkait citra dan reputasi yang ingin dicapai.
  • Misi: Mengidentifikasi nilai-nilai inti dan strategi untuk mencapai visi tersebut.

3. Pengembangan Identitas Merek:

  • Nama Merek: Menentukan nama yang unik dan mudah diingat untuk mewakili identitas kota.
  • Logo dan Visual: Menciptakan logo, warna, dan gaya visual yang konsisten dengan citra yang ingin dibangun.
  • Slogan: Menyusun slogan yang menarik dan mencerminkan semangat kota.

 4. Komunikasi dan Implementasi:

  • Kampanye Promosi: Menggunakan berbagai media (online dan offline) untuk menyebarkan pesan merek kepada target pasar.
  • Pengalaman Unggul: Menciptakan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung dan penduduk, misalnya melalui acara, acara, atau infrastruktur yang menarik.
  • Kolaborasi: Berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk membangun kesadaran merek secara bersama-sama.

5. Evaluasi dan Pemantauan:

  • Mengukur Dampak: Memantau kinerja city branding, misalnya melalui survei, analisis lalu lintas web, dan pengumpulan umpan balik.
  • Melakukan Perbaikan: Melakukan penyesuaian strategi jika diperlukan, berdasarkan hasil evaluasi. 

Sebagai Contoh penulis mencoba secara sepintas berdasarkan pengamatan penulis (sangat subyektif) mencoba untuk menentukan Potensi tersebut melalui tahapan yang sudah dibicarakan di atas, yaitu melalui tahapan seperti yang disampaikan Inch .


Dalam tabel di atas, penulis menilai bahwa potensi yang dimiliki oleh Bandung Barat baik itu potensi alam maupun SDMnya adalah Tanah yang Subur dan Bentang Alam yang cukup Indah, sehingga yang bisa dibranding adalah Pertanian/Peternakan dan Pariwisata. Kita ketahui bahwa Pertanian/peternakan di Bandung Barat sudah cukup dikenal sebagai penghasil sayuran, susu, bunga dan produk pertanian lainnya. Selain daripada itu sektor Pariwisata juga cukup menonjol terutama di wilayah Bandung Utara, tinggal mengembangkan Wilayah Bandung Barat bagian Selatan yang sebetulnya memiliki potensi pertanian dan pariwisata. Setelah menetapkan Potensi berdasarkan data dan Analisa kemudian dibuatlah tagline sebagai spirit dalam City Branding tersebut. Apabila sudah disepakati bersama (contoh yang disepakati adalah Pertanian dan Pariwisata), dibikin tag line sebagai icon untuk membranding Bandung Barat, misalnya :

1.      BANDUNG BARAT KOTA AGROWISATA.

2.      BANDUNG BARAT THE BEST CITY OF AGRO TOURISM IN WEST JAVA .

3.      BANDUNG BARAT ENDAH JEUNG SUBUR ALAMNA.

4.      HAYU PIKNIK JEUNG TATANEN DI BANDUNG BARAT.

5.      ……………………………. (SILAHKAN BUAT TAGLINE LAIN)

Sebelum penyepakati Icon/tagline di atas tentu saja kita juga harus menetapkan Visi Misi yang berkaitan dengan City Branding tersebut. Visi Misi ini bisa berbeda dengan Visi Misi Bupati yang sudah ditetapkan dalam RPJMD. Misalnya Visi yang berkaitan dengan City Branding di Bandung Barat yang berkaitan dengan Parawisata & Pertanian antara lain : MENJADIKAN BANDUNG BARAT  SEBAGAI KOTA AGROWISATA TERMAJU DI JAWA BARAT. Visi tersebut menurut penulis cukup Realistis, karena Kabupaten Bandung Barat mempunyai Potensi Besar di dua sektor tersebut. Saingan yang cukup dekat misalnya Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Berbicarqa masalah Parawisata dan Pertanian tentu saja ada beberapa hal yang perlu dikaji Bersama, antara lain :

Sektor Pariwisata :

  • Bagaimana meningkatkan Kualitas Obyek/atraksi wisata eksisting di Kabupaten Bandung Barat
  • Bagaimana menciptakan Obyek/atraksi wisata yang Baru di Kabupaten Bandung Barat (mis : Potensi Wisata di Stone Garden & Gua Pawon, Potensi Wisata di wilayah Selatan Kabupaten Bandung Barat, Potensi Wisata Air Waduk Saguling, dll), mulai dari perencanaan (fisibility study, Rencana Teknis, Rencana Investasi) sampai dengan pelaksanaan.
  • Menciptakan Desa wisata – desa wisata yang baru.
  • Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Obyek Wisata (Pengelola, Masyarakat dan Pendidikan)
  • Bagaimana memanfaatkan Stasiun Kereta Cepat sebagai Pintu Gerbang Wisata di Bandung Barat.
  • Membuat Even-even rutin baik itu seni maupun budaya yang bisa mendatangkan wisatawan. Misalnya karena Bandung Barat salah satu penghasil Bunga ada even Carnaval bertemakan bunga.
  • Bagaimana infrastruktur yang mendukung kegiatan wisata.
  • dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa mendukung sektor pariwisata terutama yang dilakukan oleh stakeholder kegiatan pariwisata.

 Sektor Pertanian :

  • Bagaimana Hasil Produk Pertanian (termasuk peternakan) Bandung Barat bisa memenuhi Pasar Regional Jawa Barat dan Nasional (Jakarta).
  • Keuntungan Letak Geografis Bandung Barat (dekat dengan Bandung & Jakarta) harus bisa dimanfaatkan oleh Petani Bandung Barat dengan menangkap kebutuhan produk pertanian di Kota Besar tersebut.
  • Bagaimana meningkatkan Kualitas dan Kuantitas hasil pertanian. 
  • Apakah Bandung Barat membutuhkan Pasar Induk Hasil Pertanian ?
  • Kolaborasi antara Pertanian dan Pariwisata.
  • dan masih banyak lagi yang harus didiskusikan.

 

Demikian tulisan mengenai City Branding Bandung Barat, semoga di Usia yang ke-18 Bandung Barat semakin maju dan mempunyai Jatidiri yang bisa membawa nama baik Bandung Barat. Ayo Penggerak Ekonomi Bandung Barat kita Branding Bandung Barat untuk kemajuan Masyarakat Bandung Barat.

Wassalam.    

Ditulis Oleh Yoga Rukma Gandara, ST., MT 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRINSIP KEARIFAN LOKAL KASUNDAAN DALAM IMPLEMENTASI PENATAAN RUANG DI JAWA BARAT

Bubuka Konsep kearifan lokal dalam kehidupan Masyarakat Sunda pada jaman dahulu khususnya nilai-nilai dalam penerapan pembangunan kampung/tempat tinggal merupakan nilai-nilai kearifan yang sangat memperhatikan lingkungan/alam. Masyarakat Sunda pada waktu itu menjungjung tinggi kelestarian lingkungan dengan menempatkan alam/lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam bertempat tinggal atau dalam membangun perkampungan. Seiring dengan perkembangan jaman pada masa sekarang dimana Kawasan terbangun cukup pesat pembangunannya, apakah Pembangunan Kawasan terbangun di Jawa Barat dalam implementasinya memperhatikan aspek konsep kearifan lokal kasundaan sebagai salah satu acuan dalam pembangunannya atau sama sekali tidak memperhatikan aspek kearifan lokal tersebut. Atau pertanyaannya masih adakah pemanfaatan ruang di Jawa Barat yang memperhatikan aspek kearifan lokal nilai-nilai kasundaan mengenai pemanfaatan ruang. Akhir-akhir ini masalah kearifan loca...

KEMBALI ke PEMBANGUNAN HIJAU

Disusun oleh YOGA RUKMA GANDARA, ST.,  PROLOG   Pembangunan Hijau atau Green Development sudah di dengungkan oleh para ahli Pembangunan pada tahun 2000 an. Hal ini dilatarbelakangi oleh Pembangunan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan aspek lingkungan serta mengeksploitasi alam secara membabi buta atau tanpa memperdulikan aspek keberlanjutan. Pembangunan Hijau ini sangat berkaitan dengan Pembangunan Keberlanjutan. Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yang menjadi kunci dalam pelaksanaannya yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan (Outcome of UN World Summit, 2005). Pembangunan hijau adalah pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Pembangunan hijau dapat berupa bangunan hijau, ekonomi hijau, dan infrastruktur hijau. Sebetulnya Pembangunan di Indonesia sudah berusaha mengadopsi Pembangunan Hijau ini sampai dituangkan dalam kebijakan RPJMN maupun RPJPD. Bappenaspun sudah membuat berapa kajian mulai dari Perencanaan Hijau maupun Pelaksanaan Pe...