BUBUKA
Bandung Barat
sebagai sebuah Kabupaten sebentar lagi akan memperingati hari jadi yang ke-18,
tepatnya tanggal 19 Juni 2025. Usia 18 bagi sebuah daerah memang usia yang
belum begitu lama, akan tetapi juga bukan waktu yang sebentar kalau kita
cermati perjalannannya karena sudah melaksanakan pemilihan Kepala Daerah
sebanyak 4 kali. Sekarang gelar Bungsu Kabupaten di Jawa Barat telah beralih ke
Kabupaten Pangandaran, sehingga kata Kabupaten Baru sudah beralih ke Kabupaten
Pangandaran. Penulis mencoba untuk memahami perkembangan Bandung Barat melalui brand
image atau citra kota/daerah dari aspek perkembangan kota/daerah. Sudah
saatnya di usia yang ke-18 ini Kabupaten Bandung Barat mendeklarasikan brand
image atau citra kota/daerah agar masyarakat secara umum bisa mengenalkan
daerah tempat tinggalnya kepada khalayak umum sebagai daerah tertentu yang
secara umum tentu saja citra kota/daerah tersebut harus sesuai dengan kondisi,
potensi serta Sumber Daya Manusia yang ada di kabupaten Bandung Barat, sehingga
citra kota/daerah tersebut bukan hanya sebagai lipc service saja tetapi
betul-betul menggambarkan wajah sesungguhnya Kabupaten Bandung Barat. Selam ini
dalam kurun waktu 18 tahun belum ada Kepala Daerah Bandung Barat yang
mendeklarasikan mengenai Citra Kota/daerah atau Jatidiri Kabupaten Bandung
Barat.
Kemudian mengapa
penulis dalam judul tulisan ini mengajak Penggerak Ekonomi (KADIN, APINDO,
PHRI, HKTI, KOPERASI, PETANI, PETERNAK, PENGUSAHA PARIWISATA, dll) tidak saja kepada pihak Pemerintah? Hal ini di
sebabkan karena memang sekarang ini pemerintah sedang disibukan dengan
penyusunan perencanaan secara administrative mulai RPJPD, RPJMD dan RENJA yang
sudah dibatasi dengan templet-templet yang sudah diberikan oleh pemerintah
pusat (walaupun dalam beberapa kesempatan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
menyampaikan perlu berpikir Out Of The Box dalam menjalankan roda pemerintahan),
pemerintah daerah juga sedang disibukan oleh permasalahan infrastruktur yang
berkaitan dengan kebutuhan dasar Masyarakat seperti Jalan, air bersih,
sanitasi, Kesehatan, Pendidikan, dll. Selain dari pada itu Visi Misi Kepala
Daerah terpilih sudah terlanjur disusun pada waktu kampanye sehingga
seolah-olah terkunci oleh ketentuan administatif yang ada. Tentu saja Visi Misi
Kepala Daerah Terpilih sangat dipengaruhi oleh janji-janji Politis pada waktu
kampanye dulu. Oleh karena itu diperlukan Kolaborasi antara Penggerak Ekonomi
di Kabupaten Bandung Barat dengan Pemerintah Daerah, sehingga pembuatan Citra
Kota/Daerah ini bisa di laksanakan oleh
semua pihak sesuai kewenangan dan kemampuan masing-masing.
Salah satu
pendekatan dalam menentukan brand image, Citra atau Jatidiri Kota/Daerah
adalah melalui pendekatan City Branding. Pendekatan City Branding
pada awalnya dipakai oleh beberapa orang agar kota/daerah yang ditingalinya
bisa dipasarkan pada pelaku ekonomi sesuai dengan teori awal mengenai Branding
sebuah produk. Teori mengenai branding suatu produk/barang ekonomi diterapkan
dalam perekonomian daerah/wilayah, sehingga daerah/wilayah tersebut mempunyai
nilai lebih untuk dimanfaatkan secara ekonomi. Dalam penetapan City Branding
tersebut tentu saja kita harus melihat Kegiatan Sektor Unggulan yang bisa
menjadi Generator/pembangkit kegiatan Ekonomi Daerah sehingga akan membawa pada
peningkatan produktifitas daerah yang pada akhirnya akan membawa pada
peningkatan pendapatan/kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Bandung Barat. Karena
sangat erat dengan kegiatan perekonomian daerah maka penulis mengajak penggerak
ekonomi (KADIN, APINDO, PHRI, HKTI, KOPERASI, PETANI, PETERNAK, PENGUSAHA
PARIWISATA, dll) untuk menjadi Penggagas dalam penetapan City Branding Bandung
Barat.
APA ITU CITY
BRANDING ?
1.
CITY BRANDING SEBAGAI PERWUJUDAN
EKONOMI DAERAH
Beberapa Teori mengenai City Branding antara lain :
City Branding merupakan
strategi pemasaran kota dengan tujuan untuk memperkuat hubungan dan
membangun citra baik kota dengan pengunjung. Adapun tujuan lain dari City
Branding adalah untuk membangun sebuah citra positif suatu tempat dan untuk membedakan
tempat tersebut dengan pesaingnya. Strategi City Branding dapat dianggap
sebagai salah satu tindakan strategi yang dikelola oleh pemerintah karena untuk
mempromosikan suatu tempat.
City Branding atau
branding kota merupakan perangkat baru dalam pembangunan wilayah untuk meningkatkan
daya saing menghadapi kompetisi global. Sebagai perangkat, branding kota
adalah kelanjutan dari pemasaran tempat (place marketing), yang telah dilakukan
banyak kota - kota dunia. Branding dan pemasaran tempat berkembang sejalan
dengan globalisasi.
Konsep City Branding pertama kali diutarakan oleh Simon Anholt
dalam bukunya berjudul Brand New Justice pada 2003. Menurut Simon, city
branding ialah gagasan mengenai aplikasi sebuah identitas yang biasanya
digunakan untuk suatu produk, menjadi sebuah identitas tempat (place
branding) yang diinginkan oleh para pemangku kepentingan terkait, dan
menjadi nilai lebih dalam pandangan seorang konsumen.
City Branding merupakan
salah satu konsep dari branding. Branding merupakan sebuah konsep yang dibuat
dengan tujuan mengembangkan suatu produk (potensi daerah).
City branding
telah menjadi strategi bagi pemerintah kota dan daerah di berbagai penjuru
dunia untuk meningkatkan citra kota mereka bagi masyarakat global (Kavaratzis
& Hatch, 2013; Lucarelli & Olof Berg, 2011; Riza et al., 2012). City
branding dianggap sebagai instrumen strategis untuk mempublikasikan keunggulan
kompetitif kota, menjadi praktik umum untuk memasarkan sejarah kota, kualitas
tempat, gaya hidup, dan budaya untuk peluang, prestise atau kekuatan dalam
akumulasi modal dalam lingkungan yang kompetitif. Secara terminologi, city
branding dipahami dalam konteks manajemen pemasaran. Menurut Kavaratzis (2005)
city branding merupakan strategi yang sengaja dirancang sebagai upaya untuk
memasarkan kota guna memperkuat hubungan dan membangun citra yang baik antara
kota dengan penduduk dan pengunjungnya. Zhang & Zhao(2009) menyatakan city
branding sebagai sebuah pencitraan merek kota adalah praktik umum yang diadopsi
oleh banyak kota dalam konteks persaingan perkotaan yang intensif untuk
pemanfaatan sumber daya, pasar, peluang, dan perhatian.
Sedangkan
menurut Menurut Kotler & Keller (2009) city branding merupakan strategi
tata cara berkomunikasi yang tepat untuk membangun merek kota, daerah,
masyarakat yang tinggal di dalamnya berdasarkan keunikan mereka. Sedangkan
menurut Miller & Barbour (2014) city branding adalah bagian dari merek
tempat yang berlaku untuk kota tunggal atau wilayah keseluruhan dari sebuah
negara. Gustiawan sebagaimana dikutip (Adona et al., 2017) menyatakan bahwa
city branding sebagai strategi dari suatu negara atau daerah untuk membuat
positioning yang kuat di dalam benak target pasar mereka sehingga negara dan
daerah tersebut dapat dikenal secara luas.
Menurut
Sugiarsono (2009) terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam
merancang city branding, yaitu, (1) Attributes terkait karakter, daya tarik,
dan personalitas kota; (2) Messages berkaitan dengan kisah atau cerita unik,
berkesan, dan menyenangkan dari sebuah kota sehingga membuat publik mudah
mengingatnya; (3) Differentiation terkait dengan keunikan sebuah kota yang
membedakannya dengan kota lainnya; (4) Ambassadorship membujuk dan
menginspirasi orang untuk datang dan ingin tinggal di kota tersebut). Artinya
city branding yang dilakukan akan dapat mendorong orang untuk datang dan juga
ada keinginan untuk tinggal sejenak di kota tersebut.
Moilanen (2009)
mengemukakan tiga konsep utama terkait city branding yang menyangkut merek
kota, yaitu, pertama Identitas yang meliputi strategi, substansi,
dan simbolik. Strategi diperlukan untuk mengetahui bagaimana persepsi pemangku
kepentingan terhadap suatu tempat atau kota. Substansi berkaitan dengan
eksekusi dari strategi komunikasi primer terkait dengan potensi pengaruh
tindakan yang dilakukan sebuah kota namun memiliki efek komunikasi yang tidak
sengaja. Komponen simbolik terkait dengan substansi yang memiliki kekuatan
komunikasi memiliki sifat menonjol, mudah diingat, indah, dan memiliki unsur
dramatis. Kedua, Citra atau image yang berkaitan dengan semua
asosiasi yang muncul di benak publik atas sebuah obyek yang dipilih dalam
bentuk kegiatan, inovasi, peraturan/kebijakan, reformasi. Ketiga, Komunikasi
yang berkaitan dengan proses penyampaian informasi ide dan identitas sebuah
kota. Komunikasi yang dilakukan dalam city branding akan mengupayakan membangun
citra dan image sebuah kota.
2. CITY BRANDING SEBAGAI
PERWUJUDAN URBAN ENTREPREUNEURSHIP
Dalam Perspektif Pembangunan Ekonomi Daerah DIBUTUHKAN KEGIATAN EKONOMI sebagai GENERATOR/Daya Ungkit Pembangunan Daerah, berdasarkan POTENSI yang dimiliki oleh Daerah tersebut yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat. Pendekatan “KEWIRAUSAHAAN DAERAH” atau URBAN ENTREPRENEUSHIP salah satunya adalah bagaimana agar daerah tersebut bisa berkembang kegiatan ekonominya yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. City Branding sebagai salah satu kegiatan yang muncul dari spirit kewirausahaan ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip antara lain :
- Pendekatan ini bertujuan mengembangkan dan mendukung pembangunan ekonomi lokal dengan mendorong pertumbuhan ekonomi
- Memaksimalkan mekanisme pasar untuk mencapai tujuan publik dengan intervensi terbatas dari sektor publik
- Kolaborasi/Kemitraan antara Sektor Publik dan Privat.
- Kegiatan Infrastruktur selain memenuhi kebutuhan dasar masayarakat juga harus mendukung kegiatan Ekonomi Daerah.
- Selain Melayani kebutuhan Masyarakat juga harus Menciptakan peluang-peluang dalam meningkatkan produktifitas ekonomi mulai dari produksi sampai dengan pemasaran.
CITY BRANDING selain menjadi salah satu Upaya untuk mewujudkan Kewirausahaan Daerah, sebagai Upaya meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi, juga mempunyai Nilai Tambah, antara lain :
- Membentuk Citra/Identitas Kota
- Promosi Kota (Investor, Wisatawan, dll)
- Meningkatkan Daya Saing Dengan Kabupaten Tetangga
- Melibatkan Semua Stakeholder
3.
CONTOH CITY BRANDING
Di kota-kota
lain baik di Indonesia dan Luar Negeri pembuatan City branding ini sudah banyak
dilaksanakan, contoh City Branding yang kita kenal seperti dibawah ini :
4. TAHAPAN PENERAPAN CITY BRANDING DALAM TATARAN PERENCANAAN DAERAH
Tahapan
pembuatan City Branding harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan Potensi
serta Rencana Pengembangan ke depan. Secara garis besar tahapan yang harus
dilalui, antara lain harus benar-benar menggali potensi melalui data serta
persepsi Masyarakat sebagai pemakai/pengguna dari potensi yang ada. Kemudian
harus melibatkan semua sektor agar branding yang akan dibangun betul-betul
menjadi kesepakatan Bersama untuk diwujudkan. Dalam membranding suatu
kota/daerah peran komunikasi menjadi bagian terpenting karena komunikasi ini
menjadi alat marketing ketika city
branding sudah ditetapkan. Kemudian juga untuk mewujudkan City Branding
diperlukan pembuatan Road Map dalam melaksanakan kegiatan untuk mewujudkan
Tujuan City Branding terwudud. Secara garis besar beberapa penulis menyampaikan
tahapan yang harus dilalui melalui table berikut :
Menurut Insch (Raharjo, 2015), terdapat empat langkah proses strategi City Branding, yaitu:
- Identity, merupakan suatu cara untuk melihat berbagai macam aspek dalam suatu Kota/Daerah yang dapat meningkatkan Branding.
- Objective atau penentuan tujuan City Branding. Dengan adanya Brand maka akan jelas tujuan suatu Kota dan membuat perencanaan lebih matang lagi yang dapat berpengaruh pada tumbuhnya perekonomian di Kota/Daerah tersebut.
- Communication, proses komunikasi, berinteraksi dengan pihak yang berkepentingan dengan sebuah Kota/Daerah.
- Coherence, merupakan suatu cara utnuk dapat menyampaikan suatu program komunikasi dengan baik dan terarah.
5. CITY BRANDING BANDUNG
BARAT
Bagaimana dengan
Bandung Barat? apakah yang bisa dibranding agar Potensi yang dimiliki oleh
Bandung Barat bisa dipasarkan agar menjadi sebuah kekuatan Ekonomi Daerah
Bandung Barat. Selama ini belum ada Kepala Daerah di Bandung Barat yang
mendeklarasikan City Branding tersebut. Perlu diingat City Branding bukan
sekedar membuat icon (logo) atau membuat tag line baik itu Singkatan / Akronim
atau sebuah kata yang mengandung arti, akan tetapi City Branding tersebut harus
bisa menggambarkan potensi yang dimiliki oleh Bandung Barat, baik itu potensi
alam maupun Sumber Daya Masyarakat. Sehingga Potensi tersebut bisa dipasarkan dan
menghasilkan pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi identitas/jatidiri kabupaten
Bandung Barat. Penentuan Potensi
tersebut tentusaja harus berdasarkan Data serta Analisa, yang dilakukan melalui
diskusi semua stakeholder seperti Masyarakat, Swasta, Akademisi, Pemerintah dan
Media masa (Pentahelik).
Sebaiknya dalam Menyusun
City Branding Bandung Barat dibuat Road Map agar City Branding ini betul-betul
menggambarkan potensi dan peluang ekonomi di Bandung Barat. Road map city branding adalah strategi yang
sistematis untuk membangun dan mengelola citra serta identitas suatu
kota. Ini melibatkan berbagai tahapan, mulai dari penetapan visi dan misi
hingga implementasi kampanye komunikasi yang efektif. Tujuan utamanya
adalah menciptakan daya tarik yang kuat bagi wisatawan, investor, dan penduduk,
serta membangun reputasi positif yang berkelanjutan.
Tahapan Roadmap City Branding:
1. Analisis Situasi:
- Evaluasi Keunggulan: Menilai kekuatan dan kelemahan kota, termasuk potensi pariwisata, ekonomi, budaya, dan infrastruktur.
- Identifikasi Target Pasar: Menentukan siapa yang ingin dilibatkan, seperti wisatawan, investor, atau penduduk potensial.
- Analisis Persaingan: Memahami bagaimana kota-kota lain memposisikan diri dan membangun citra.
2. Penyusunan Visi dan Misi:
- Visi: Menentukan tujuan jangka panjang kota terkait citra dan reputasi yang ingin dicapai.
- Misi: Mengidentifikasi nilai-nilai inti dan strategi untuk mencapai visi tersebut.
3. Pengembangan Identitas Merek:
- Nama Merek: Menentukan nama yang unik dan mudah diingat untuk mewakili identitas kota.
- Logo dan Visual: Menciptakan logo, warna, dan gaya visual yang konsisten dengan citra yang ingin dibangun.
- Slogan: Menyusun slogan yang menarik dan mencerminkan semangat kota.
4. Komunikasi dan Implementasi:
- Kampanye Promosi: Menggunakan berbagai media (online dan offline) untuk menyebarkan pesan merek kepada target pasar.
- Pengalaman Unggul: Menciptakan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung dan penduduk, misalnya melalui acara, acara, atau infrastruktur yang menarik.
- Kolaborasi: Berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk membangun kesadaran merek secara bersama-sama.
5. Evaluasi dan Pemantauan:
- Mengukur Dampak: Memantau kinerja city branding, misalnya melalui survei, analisis lalu lintas web, dan pengumpulan umpan balik.
- Melakukan Perbaikan: Melakukan penyesuaian strategi jika diperlukan, berdasarkan hasil evaluasi.
Sebagai Contoh penulis mencoba secara sepintas berdasarkan pengamatan penulis (sangat subyektif) mencoba untuk menentukan Potensi tersebut melalui tahapan yang sudah dibicarakan di atas, yaitu melalui tahapan seperti yang disampaikan Inch .
Dalam tabel di atas, penulis menilai bahwa potensi yang dimiliki oleh Bandung Barat baik itu potensi alam maupun SDMnya adalah Tanah yang Subur dan Bentang Alam yang cukup Indah, sehingga yang bisa dibranding adalah Pertanian/Peternakan dan Pariwisata. Kita ketahui bahwa Pertanian/peternakan di Bandung Barat sudah cukup dikenal sebagai penghasil sayuran, susu, bunga dan produk pertanian lainnya. Selain daripada itu sektor Pariwisata juga cukup menonjol terutama di wilayah Bandung Utara, tinggal mengembangkan Wilayah Bandung Barat bagian Selatan yang sebetulnya memiliki potensi pertanian dan pariwisata. Setelah menetapkan Potensi berdasarkan data dan Analisa kemudian dibuatlah tagline sebagai spirit dalam City Branding tersebut. Apabila sudah disepakati bersama (contoh yang disepakati adalah Pertanian dan Pariwisata), dibikin tag line sebagai icon untuk membranding Bandung Barat, misalnya :
1.
BANDUNG BARAT KOTA AGROWISATA.
2.
BANDUNG BARAT THE BEST CITY OF
AGRO TOURISM IN WEST JAVA .
3.
BANDUNG BARAT ENDAH JEUNG SUBUR
ALAMNA.
4.
HAYU PIKNIK JEUNG TATANEN DI
BANDUNG BARAT.
5.
……………………………. (SILAHKAN BUAT
TAGLINE LAIN)
Sebelum
penyepakati Icon/tagline di atas tentu saja kita juga harus menetapkan Visi
Misi yang berkaitan dengan City Branding tersebut. Visi Misi ini bisa berbeda
dengan Visi Misi Bupati yang sudah ditetapkan dalam RPJMD. Misalnya Visi yang
berkaitan dengan City Branding di Bandung Barat yang berkaitan dengan Parawisata
& Pertanian antara lain : MENJADIKAN BANDUNG BARAT SEBAGAI KOTA AGROWISATA TERMAJU DI JAWA BARAT.
Visi tersebut menurut penulis cukup Realistis, karena Kabupaten Bandung Barat
mempunyai Potensi Besar di dua sektor tersebut. Saingan yang cukup dekat
misalnya Kabupaten Bandung dan Cianjur.
Berbicarqa
masalah Parawisata dan Pertanian tentu saja ada beberapa hal yang perlu dikaji Bersama,
antara lain :
Sektor Pariwisata :
- Bagaimana meningkatkan Kualitas Obyek/atraksi wisata eksisting di Kabupaten Bandung Barat
- Bagaimana menciptakan Obyek/atraksi wisata yang Baru di Kabupaten Bandung Barat (mis : Potensi Wisata di Stone Garden & Gua Pawon, Potensi Wisata di wilayah Selatan Kabupaten Bandung Barat, Potensi Wisata Air Waduk Saguling, dll), mulai dari perencanaan (fisibility study, Rencana Teknis, Rencana Investasi) sampai dengan pelaksanaan.
- Menciptakan Desa wisata – desa wisata yang baru.
- Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Obyek Wisata (Pengelola, Masyarakat dan Pendidikan)
- Bagaimana memanfaatkan Stasiun Kereta Cepat sebagai Pintu Gerbang Wisata di Bandung Barat.
- Membuat Even-even rutin baik itu seni maupun budaya yang bisa mendatangkan wisatawan. Misalnya karena Bandung Barat salah satu penghasil Bunga ada even Carnaval bertemakan bunga.
- Bagaimana infrastruktur yang mendukung kegiatan wisata.
- dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa mendukung sektor pariwisata terutama yang dilakukan oleh stakeholder kegiatan pariwisata.
Sektor Pertanian :
- Bagaimana Hasil Produk Pertanian (termasuk peternakan) Bandung Barat bisa memenuhi Pasar Regional Jawa Barat dan Nasional (Jakarta).
- Keuntungan Letak Geografis Bandung Barat (dekat dengan Bandung & Jakarta) harus bisa dimanfaatkan oleh Petani Bandung Barat dengan menangkap kebutuhan produk pertanian di Kota Besar tersebut.
- Bagaimana meningkatkan Kualitas dan Kuantitas hasil pertanian.
- Apakah Bandung Barat membutuhkan Pasar Induk Hasil Pertanian ?
- Kolaborasi antara Pertanian dan Pariwisata.
- dan masih banyak lagi yang harus didiskusikan.
Demikian tulisan
mengenai City Branding Bandung Barat, semoga di Usia yang ke-18 Bandung Barat
semakin maju dan mempunyai Jatidiri yang bisa membawa nama baik Bandung Barat. Ayo
Penggerak Ekonomi Bandung Barat kita Branding Bandung Barat untuk kemajuan Masyarakat
Bandung Barat.
Wassalam.
Ditulis Oleh Yoga Rukma Gandara, ST., MT
Komentar
Posting Komentar