Langsung ke konten utama

Arsitektur Kota dan Kepala Daerah


ARSITEKTUR KOTA & KEPALA DAERAH
Arsitektur Perkotaan merupakan salah satu wujud dari hasil pembangunan yang melibatkan berbagai Stake holder Pembangunan Perkotaan. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan/regulasi perkotaan baik kebijakan anggaran pembangunan kota maupun kebijakan yang sifatnya mengatur (regulator), Swasta sebagai pelaku kegiatan perekonomian serta masyarakat sebagai penghuni kota.  Masing-masing peran Stake holder tersebut dalam pembangunan perkotaan memberikan Rona Perkotaan yang berbeda-beda tiap daerah. Rona Perkotaan tersebut pada akhirnya menjadi salah satu pembentuk identitas/wajah/citra kota. Tulisan ini mencoba membahas peran Kepala daerah Sebagai Pemimpin Pemerintahan di daerah terhadap bentuk kota terutama wajah suatu kota.

Teori mengenai pembentuk kota sudah banyak di utarakan oleh berbagai ahli perkotaan, secara umum beberapa teori mengelompokan dalam tiga kelompok teori pembentukan kota yaitu, teori figure/ground, teori lingkage dan teori place. Identitas/wajah/citra Kota secara garis besar memang menjadi salah satu bagian dari teori Place, sehingga sedikit banyak akan mengkaitkan Identitas/wajah/citra kota dengan teori tersebut. Walaupun demikian tulisan ini akan lebih membahas lebih ke persepsi masyarakat secara umum sehingga mungkin tulisan tidal terlalu  teoritis akademis.

Masyarakat akhir-akhir ini cukup perhatian dengan wajah kota sejak beberapa Gubernur/Walikota/Bupati menjadikan wajah kota sebagai salah satu dagangan Kepala Daerah terhadap keberhasilan pembangunan yang dilaksanakan oleh Kepala Daerah tersebut. Sebut saja beberapa pimpinan daerah yang cukup berhasil mendagangkan hasil kerja pembangunan wajah kota antara lain, Ridwal Kamil, Bu Risma, Ahok dengan RTPANYA dan  Kepala Daerah lainnya. Bahkan ada beberapa calon kepala daerah yang menggunakan pembangunan perkotaan sebagai jargonnya, misalbya ada jargon yang bunyinya Kampung diurus KOTA DITATA.

Fenomena keberhasilan pembangunan Wajah Kota sekarang menjadi salah satu persepsi masyarakat bahwa Kepala Daerah sangat menentukan wajah kota, padahal kita tahu bahwa mempercantik wajah kota hanya sebagian kecil tugas Kepala Daerah sebagian besar tugas Kepala Daerah adalah mensejahterakan masyarakatnya. Popularitas Kepala Daerah menjadi terangkat ketika berhasil mempercantik wajah kota, apalagi elemen pembentuk kota yang dibangun menyangkut kepentingan umum, misalnya Ruang Terbuka Publik berupa taman-taman aktif seperti di Kota Bandung dan Surabaya.

Ada hal yang menarik mengenai Background Kepala Daerah pada era sekarang ini, kalau dulu backround Kepala Daerah lebih didominasi oleh Birokrat yang berasal dari TNI atau Administratur Pemerintah (Jaman Orde Baru), pada Era sekarang berbagai jenis background Kepala Daerah Hasil pemilihan langsung, ada Praktisi, Akademisi, Bisnisman, Pedagang, maupun Birokrat dengan latar belakang pendidikan yang berbagai macam juga, ada Arsitek (Ridwal kamil, Bu Risma), Ahli Perencana Wilayah,  Sarjana Ekonomi dan berbagai latar belakang pendidikan lainnya. Berbagai macam background kapala Daerah tersebut sangat mempengaruhi perkembangan wajah kota, baik dari aspek Perencanaan (design), penganggaran, pelaksanaan. Seorang Arsitek akan sangat memperhatikan mulai dari Design sampai ke detail-detail menyangkut perencanaan elemen pembentuk kota, seorang Bisnisman akan mencari berbagai macam alternative pembiayaan/pengganggaran pembangunan elemen pembentuk kota ( seperti DKI yang membangun RTPA tanpa APBD), atau lain-lain backround Kepala Daerah akan berperan sesuai dengan backround dia.

Muncul pertanyaan apakah bila Kepala Daerah tidak mempunyai backround yang berkaitan dengan pembangunan wajah kota maka akan tertinggal pembangunan wajah kota ? Tentu saja tidak,  apapun backroundnya Pembangunan wajah kota selama Niat dan Perhatian Kepala Daearah terhadap pembangunan wajah kota cukup baik maka pembangunan akan terus dilaksakan. Kepala Daerah bisa memerankan Organisasi Perangkat Daerah untuk mengawal pembangunan wajah Kota mulai dari Ide, Perencanaan, Penganggaran maupun pelaksanaan. Beberapa Kepala Daerah sudah memgfungsikan Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG)  yang terdiri dari ahli-ahli Pembangunan Gedung dan Perencana Kota dalam mengaplikasikan kebijakan-kebijakan dalam pembangunan wajah kota. Bahkan sekelas Ridwan Kamil pun yang sudah cukup mumpuni sebagai Urban Design membentuk Bandung Planning Gallery sebagai alat agar perencanaan dan konsep pembangunan Kota Bandung dapat dipahami oleh semua kalangan lapisan masyarakat.

Dalam struktur Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau SKPD sekarang ini, pembangunan Perkotaan agak sedikit lebih tertinggal dari pada SKPD dahulu. Sekarang Pembangunan Perkotaan dititipkan dalam OPD Dinas PUPR, Dinas Perumahan Permukiman. Dibandingkan dahulu ada Dinas/Bidang tersendiri yang menangani perkotaan yaitu Dinas Tata Kota atau Bidang Tata Kota, sehingga  pembangunan perkotaan akan lebih terpadu dan terorganisir dengan baik. Untuk Kota-kota yang sudah cukup berkembang memang diperlukan management kota tersendiri tidak di urusi oleh OPD/SKPD. Perumahan-perumahan besar yang ada di perkotaan juga menerapkan system pengelolaan melalui Town Management, pola-pola seperti tersebut bisa diterapkan oleh Pemerintah Daerah dengan modifikasi di sesuaikan dengan kebutuhan, bisa berupa BUMD taupun badan pengelola lainnya.

Selain kemampuan menggerakkan organisasi internal Pemerintah Daerah, Kepala Daerah juga dituntut untuk bisa menggerakan Masyarakat dan pihak Swasta agar pembangunan yang dilaksanakan oleh mereka mendukung pembangunan perkotaan. Masyarakat dan pihak swasta dituntut agar pembangunan yang dilaksanakan oleh mereka sesuai dengan rencana kota yang sudah dibuat oleh pemerintah, atau bahkan masyarakat dan swasta meng-inisiasi pembangunan yang mempercantik wajah kota. Sekarang ini banyak inisiatif pembangunan wajah kota yang dilakukan oleh komunitas-komunitas non pemerintah, seperti pembangunan Kampung Warna di malang, Kampung Tematik di Kota Bandung dan lain-lain pembangunan di kota-kota di Indonesia.

Demikian sekilas tulisan mengenai Kepala Daerah dan Arsitektur Kota. Mudah-mudahan Pembangunan wajah Kota menjadi issue yang diperjuangkan oleh Calon Kepala Daerah yang akan bertarung dalam Pilkada., yang tentunya ketika Kepala daerah tersebut menang bisa diwujudkan melalui program nyata.

Penulis :
Yoga Rukma Gandara, ST., MT




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRINSIP KEARIFAN LOKAL KASUNDAAN DALAM IMPLEMENTASI PENATAAN RUANG DI JAWA BARAT

Bubuka Konsep kearifan lokal dalam kehidupan Masyarakat Sunda pada jaman dahulu khususnya nilai-nilai dalam penerapan pembangunan kampung/tempat tinggal merupakan nilai-nilai kearifan yang sangat memperhatikan lingkungan/alam. Masyarakat Sunda pada waktu itu menjungjung tinggi kelestarian lingkungan dengan menempatkan alam/lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam bertempat tinggal atau dalam membangun perkampungan. Seiring dengan perkembangan jaman pada masa sekarang dimana Kawasan terbangun cukup pesat pembangunannya, apakah Pembangunan Kawasan terbangun di Jawa Barat dalam implementasinya memperhatikan aspek konsep kearifan lokal kasundaan sebagai salah satu acuan dalam pembangunannya atau sama sekali tidak memperhatikan aspek kearifan lokal tersebut. Atau pertanyaannya masih adakah pemanfaatan ruang di Jawa Barat yang memperhatikan aspek kearifan lokal nilai-nilai kasundaan mengenai pemanfaatan ruang. Akhir-akhir ini masalah kearifan loca...

APA KABARNYA CITY BRANDING BANDUNG BARAT, siapkah PENGGERAK EKONOMI BANDUNG BARAT MEMBRANDING ?

BUBUKA   Bandung Barat sebagai sebuah Kabupaten sebentar lagi akan memperingati hari jadi yang ke-18, tepatnya tanggal 19 Juni 2025. Usia 18 bagi sebuah daerah memang usia yang belum begitu lama, akan tetapi juga bukan waktu yang sebentar kalau kita cermati perjalannannya karena sudah melaksanakan pemilihan Kepala Daerah sebanyak 4 kali. Sekarang gelar Bungsu Kabupaten di Jawa Barat telah beralih ke Kabupaten Pangandaran, sehingga kata Kabupaten Baru sudah beralih ke Kabupaten Pangandaran. Penulis mencoba untuk memahami perkembangan Bandung Barat melalui brand image atau citra kota/daerah dari aspek perkembangan kota/daerah. Sudah saatnya di usia yang ke-18 ini Kabupaten Bandung Barat mendeklarasikan brand image atau citra kota/daerah agar masyarakat secara umum bisa mengenalkan daerah tempat tinggalnya kepada khalayak umum sebagai daerah tertentu yang secara umum tentu saja citra kota/daerah tersebut harus sesuai dengan kondisi, potensi serta Sumber Daya Manusia yang ada di kabu...

KEMBALI ke PEMBANGUNAN HIJAU

Disusun oleh YOGA RUKMA GANDARA, ST.,  PROLOG   Pembangunan Hijau atau Green Development sudah di dengungkan oleh para ahli Pembangunan pada tahun 2000 an. Hal ini dilatarbelakangi oleh Pembangunan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan aspek lingkungan serta mengeksploitasi alam secara membabi buta atau tanpa memperdulikan aspek keberlanjutan. Pembangunan Hijau ini sangat berkaitan dengan Pembangunan Keberlanjutan. Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yang menjadi kunci dalam pelaksanaannya yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan (Outcome of UN World Summit, 2005). Pembangunan hijau adalah pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Pembangunan hijau dapat berupa bangunan hijau, ekonomi hijau, dan infrastruktur hijau. Sebetulnya Pembangunan di Indonesia sudah berusaha mengadopsi Pembangunan Hijau ini sampai dituangkan dalam kebijakan RPJMN maupun RPJPD. Bappenaspun sudah membuat berapa kajian mulai dari Perencanaan Hijau maupun Pelaksanaan Pe...