Langsung ke konten utama

Kota Hemat Energi


KOTA HEMAT ENERGI

Krisis Energi sedang melanda kota-kota di Indonesia. Salah satu contoh yang kita rasakan antara lain sering terjadi pemadaman bergillir di kota-kota yang ada di Indonesia. Ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM sepertinya melengkapi penderitaan warga kota. Mengapa hal ini bisa terjadi terutama di kota-kota di Indonesia? Salah satu penyebabnya antara lain dalam merencanakan, mengelola maupun melaksanakan pembangunan perkotaan, ENERGI bukan merupakan salah satu aspek penting dalam Manajemen Perkotaan (mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan). Selama ini kita dininabobokan oleh berlimpah dan mudahnya memperoleh Sumber Daya Energi. Keadaan alam Indonesia menyediakan sumber daya alam sebagai bahan baku energi (baik listrik maupun BBM). Tulisan ini mencoba untuk menguraikan benang merah antara kota dan Energi sebagai salah satu aspek penting dalam perkotaan.

KOTA SEBAGAI JARINGAN
Banyak teori yang membahas mengenai Kota sebagai jaringan. Kota merupakan jaringan dari berbagai aktifitas maupun interkoneksi antar wilayah atau kawasan. Lalu bagaimana kaitannya Energi dengan Jaringan tersebut. Secara sederhana kita dapat menghubungkan kedua hal tersebut antara lain : Bagaimana pola jaringan tersebut berpengaruh terhadap Pemakaian Energi, kemudian apakah sistem jaringan tersebut berjalan dengan lancar sehingga energi bisa dihemat.   
§  Pola dan Struktur Kota
Kota sebagaai jaringan sangat dipengaruhi oleh pola perkembangan kota yang membentuk struktur kota. Beberapa bentuk pola maupun struktur kota yang ada di kota-kota di Indonesia, seperti Pola Penetrasi, Pola Invasi, Pola densifikasi, dan struktur Konsentris, Sektoral, Multiple Nuclei, linear,  dll.
Secara garis besar struktur Kota-kota di Indonesia diklasifikasikan dalam 2 (dua) struktur utama yang terbagi dalam :
-      Struktur Linear beserta modifikasinya
-      Struktur Kosentris beserta modifikasinya
Lalu bagaimana pengaruh struktur kota tersebut terhadap Energi. Secara garis besar berikut ini dibahas mengenai pengaruh struktur kota terhadap penggunaan energi.

Struktur Linear beserta modifikasinya
Kota-kota di Indonesia terutama kota-kota kecil didominasi oleh pola linear, baik itu mengikuti jaringan jalan maupun sungai. Biasanya lambat laun pola linear tersebut membentuk pola kosentris apabila pemerintah membangun infrastruktur jalan baru.



Berikut ini diuraikan hubungan antara pola linear dengan penggunaan energi :
-      Pola linear membutuhkan jaringan utama energi lebih panjang (PLN, PAM, Telepon, dll), sehingga banyaknya material dan dimensi material yang dibutuhkan akan besar.
-      Jarak  tempuh satu tempat dengan tempat yang lain menjadi jauh sehingga dibutuhkan energi (BBM) yang cukup besar.
-       Dibutuhkan Sarana Umum yang cukup banyak sehingga memerlukan energi (listrik) yang cukup banyak juga. Misalnya dibutuhkan PJU yang lebih banyak, dll.

Struktur Kosentris beserta modifikasinya
Struktur Kosentris dari segi penggunaan energi berbanding terbalik dengan struktur linear, yaitu :
-      Jaringan Utama lebih pendek, sehingga banyak material dan dimensi material yang dibutuhkan dapat dihemat.
-      Jarak  tempuh satu tempat dengan tempat yang lain menjadi dekat sehingga energi (BBM) dapat dihemat.
-      Sarana Umum dapat digunakan bersama-sama dengan komunitas yang banyak sehingga energi (listrik) yang digunakan cukup hemat. Misalnya dibutuhkan PJU yang lebih sedikit, dll.


§  Berjalannya Sistem Jaringan
Suatu sistem jaringan dapat bekerja dengan baik apabila semua bagian dapat berjalan dengan baik, saluran tempat jaringan sesuai kapasitas yang akan melaluinya dan kualitasnya bagus, material yang melewatinya juga bagus. Apabila kita bandingkan sistem jaringan yang ada di kota terutama sistem transportasi yang erat kaitannya dengan pemakaian energi maka secara sederhana dapat kita simpulkan apabila sistem transportasi berjalan dengan baik maka pemakaian energi bisa dihemat. Bagaimana dengan sistem transportasi kota-kota di Indonesia, apakah sudah berjalan baik ???
Berikut ini beberapa permasalahan sistem transportasi yang pada akhirnya sangat mempengaruhi pemakaian energi, antara lain : Kualitas dan kuantitas prasarana jalan, kemacetan, massal transport, dll. Sehingga apabila sistem transportasi belum berjalan dengan baik maka akan terjadi pemborosan energi. Sebagai salah satu contoh kecil misalnya Masyarakat (menengah ke atas) di kota-kota besar cenderung memakai kendaraan sendiri-sendiri dikarenakan beberapa faktor antara lain : Kenyamanan, keamanan, dan ketepatan waktu memakai kendaraan umum (massal transport). Kenyamanan dan keamanan menyangkut kualitas dan manajemen kendaraan umum, ketepatan menyangkut  kedisiplinan, kualitas jalan, sistem trayek, kelancaran lalu lintas dll. Dengan banyaknya kendaraan maka otomatis pemakaian bahan bakar juga semakin besar.




KOTA SEBAGAI PRODUK
§  Bangunan Hemat Energi
Bangunan sebagai salah satu elemen pembentuk kota kadang-kadang kurang memperhatikan penghematan energi, seharusnya bangunan menggunakan potensi alam dan bahan bangunan untuk menghemat energi, misalnya memperhatikan pengkondisian udara dan pencahayaan secara alami untuk mengurangi penggunaan AC dan Lampu penerangan.
Masih sedikit bangunan yang mempergunakan energi matahari sebagai energi pada bangunan tersebut. Tidak sedikit bangunan yang dirancang tidak memperhatikan effisiensi penggunaan energi, misalnya meminimalkan penerangan buatan,dll.
Dari aspek regulasi bangunan yang diterbitkan oleh pemerintah juga pemakaian energi  belum menjadi persyaratan regulasi. Sehingga bangunan berdiri secara angkuh dan rakus terhadap energi.

§  Teknologi Hemat Energi
Penggunaan barang-barang elektronik (yang memerlukan energi listrik) pada bangunan baik itu perkantoran maupun rumah tangga masih banyak yang tidak memperhatikan penghematan energi, salah satu contoh kecil adalah pemakaian komputer antara komputer biasa dengan Note book. Dari harga memang Note Book lebih mahal akan tetapi pemakai jarang memperhitungkan perbedaan pemakaian listrik, apabila operasional komputer itu tiap hari bisa dibayangkan sebenarnya selisih pemakaian listrik dalam tiap bulan atau tahun cukup signifikan, sebagai contoh hitungan sederhana antara lain untuk sektor pemerintah saja penggunaan komputer minimal misalnya 150 komputer dengan komputer biasa pemakaian perhari minimal 6-7 jam, basarnya arus listrik yang dipakai 250 watt/PC dibandingkan Note Book yang kurang lebih 75 watt,  bisa dibayangkan selisih penggunaan daya listrik dalam satu bulan.  
Banyak teknologi hemat energi yang lain yang kurang maksimal diterapkan dalam pembangunan kota. Misalnya Kendaraan hemat energi, kompor hemat energi dll.    

KOTA SWASEMBADA ENERGI
Pembangunan suatu kota di Indonesia masih mengandalkan Sumber Energi Listrik dari PLN, Sangat jarang sekali kota yang  memanfaatkan Potensi Sumber Daya Alam Setempat sebagai bahan baku Energi untuk kotanya sendiri. Padahal sesuai karakteristik wilayah masing-masing  banyak potensi yang bisa digunakan sebagai sumber daya energi listrik. Memang energi listrik didominasi oleh PLN karena pemerintah menganggap listrik sektror strategis. Akan tetapi daerah juga harus didorong untuk menjadi Kota Swa Sembada Energi sesuai  potensi alam yang dimilikinya.
Sekarang sudah mulai desa-desa terpencil yang memiliki potensi sungai menggunakan Tenaga Listrik Mikrohidro. Tidak mustahil kota-kota besar yang mempunyai potensi energi (seperti : sampah, matahari, angin,dll) juga mempunyai keinginan untuk berswasembada energi.


Penulis :
Yoga Rukma Gandara, ST, MT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRINSIP KEARIFAN LOKAL KASUNDAAN DALAM IMPLEMENTASI PENATAAN RUANG DI JAWA BARAT

Bubuka Konsep kearifan lokal dalam kehidupan Masyarakat Sunda pada jaman dahulu khususnya nilai-nilai dalam penerapan pembangunan kampung/tempat tinggal merupakan nilai-nilai kearifan yang sangat memperhatikan lingkungan/alam. Masyarakat Sunda pada waktu itu menjungjung tinggi kelestarian lingkungan dengan menempatkan alam/lingkungan sebagai pertimbangan utama dalam bertempat tinggal atau dalam membangun perkampungan. Seiring dengan perkembangan jaman pada masa sekarang dimana Kawasan terbangun cukup pesat pembangunannya, apakah Pembangunan Kawasan terbangun di Jawa Barat dalam implementasinya memperhatikan aspek konsep kearifan lokal kasundaan sebagai salah satu acuan dalam pembangunannya atau sama sekali tidak memperhatikan aspek kearifan lokal tersebut. Atau pertanyaannya masih adakah pemanfaatan ruang di Jawa Barat yang memperhatikan aspek kearifan lokal nilai-nilai kasundaan mengenai pemanfaatan ruang. Akhir-akhir ini masalah kearifan loca...

APA KABARNYA CITY BRANDING BANDUNG BARAT, siapkah PENGGERAK EKONOMI BANDUNG BARAT MEMBRANDING ?

BUBUKA   Bandung Barat sebagai sebuah Kabupaten sebentar lagi akan memperingati hari jadi yang ke-18, tepatnya tanggal 19 Juni 2025. Usia 18 bagi sebuah daerah memang usia yang belum begitu lama, akan tetapi juga bukan waktu yang sebentar kalau kita cermati perjalannannya karena sudah melaksanakan pemilihan Kepala Daerah sebanyak 4 kali. Sekarang gelar Bungsu Kabupaten di Jawa Barat telah beralih ke Kabupaten Pangandaran, sehingga kata Kabupaten Baru sudah beralih ke Kabupaten Pangandaran. Penulis mencoba untuk memahami perkembangan Bandung Barat melalui brand image atau citra kota/daerah dari aspek perkembangan kota/daerah. Sudah saatnya di usia yang ke-18 ini Kabupaten Bandung Barat mendeklarasikan brand image atau citra kota/daerah agar masyarakat secara umum bisa mengenalkan daerah tempat tinggalnya kepada khalayak umum sebagai daerah tertentu yang secara umum tentu saja citra kota/daerah tersebut harus sesuai dengan kondisi, potensi serta Sumber Daya Manusia yang ada di kabu...

KEMBALI ke PEMBANGUNAN HIJAU

Disusun oleh YOGA RUKMA GANDARA, ST.,  PROLOG   Pembangunan Hijau atau Green Development sudah di dengungkan oleh para ahli Pembangunan pada tahun 2000 an. Hal ini dilatarbelakangi oleh Pembangunan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan aspek lingkungan serta mengeksploitasi alam secara membabi buta atau tanpa memperdulikan aspek keberlanjutan. Pembangunan Hijau ini sangat berkaitan dengan Pembangunan Keberlanjutan. Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pilar utama yang menjadi kunci dalam pelaksanaannya yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan (Outcome of UN World Summit, 2005). Pembangunan hijau adalah pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan. Pembangunan hijau dapat berupa bangunan hijau, ekonomi hijau, dan infrastruktur hijau. Sebetulnya Pembangunan di Indonesia sudah berusaha mengadopsi Pembangunan Hijau ini sampai dituangkan dalam kebijakan RPJMN maupun RPJPD. Bappenaspun sudah membuat berapa kajian mulai dari Perencanaan Hijau maupun Pelaksanaan Pe...