EKONOMI KERAKYATAN DALAM UPAYA PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN MENUJU DESA
JAWARA
(JAYA, ISTIMEWA & SEJAHTERA) di
KABUPATEN SUBANG
Oleh : Yoga Rukma Gandara, ST, MT
WARGA SUBANG
Pembangunan pada intinya harus dapat dirasakan dan
dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, baik itu swasta, pemerintah dan
masyarakat secara menyeluruh baik di Perkotaan maupun Pedesaan. Semua unsur harus turut serta dalam
pembangunan yang tentunya diharapkan berdampak pada peningkatan kesejahteraan
secara menyeluruh juga. Konsekuensi dari kesejahteraan secara menyeluruh
tentunya adalah pemerataan pembangunan di setiap wilayah yang pada intinya
adalah pemerataan kesejahteraan semua
masyarakat di Kabupaten Subang.
Beberapa catatan
dalam peningkatan kesejahteraan yang dirasakan sekarang adalah masih adanya ketimpangan/perbedaan yang cukup
mencolok tingkat kesejahteraan masyarakat. Beberapa indicator yang menunjukan
ketimpangan itu antara lain :
§
Masih
banyak masyarakat miskin di Indonesia
sementara cukup banyak juga masyarakat Indonesia yang kaya raya.
§
UMR
yang cukup rendah, dan masih banyak perusahaan maupun perorangan yang menggaji
karyawannya di bawah UMR.
§ Tingkat Pendidikan yang masih rendah.
§
Kesenjangan
pembangunan antara Kota dan Desa, Pusat dan Daerah
§
dll
Ketimpangan
kesejahteraan masyarakat yang terjadi menurut beberapa pakar ekonomi merupakan
salah satu dari dampak negatif konsep Pembangunan Ekonomi yang menekankan pada
pertumbuhan yang diterapkan di Indonesia
sejak jaman Orde Baru. Konsep Pertumbuhan sangat berpihak pada pelaku ekonomi
menengah ke atas, sedangkan rakyat Indonesia yang sebagian besar
adalah kelas ekonomi ke bawah sangat dirugikan. Pemerintah hanya menekankan
pada angka-angka pertumbuhan ekonomi yang memang sangat dipengaruhi oleh pelaku
bisnis menengah ke atas.
Sudah saatnya negeri ini mulai dari sekarang
memperhatikan dan menitikberatkan
pemerataan kesejahteraan melalui ekonomi kerakyatan. Pelaku ekonomi kelas atas sudah bisa menyesuaikan
dengan segala tantangan yang ada di era globalisasi ini, mereka tidak perlu
lagi mendapatkan porsi perhatian yang
besar dari pemerintah. Justru porsi perhatian
pemerintah yang besar harus ditujukan kepada masyarakat kelas ekonomi
menengah ke bawah yang masih cukup banyak di Indonesia. Masyarakat ekonomi
menengah ke bawah sangat rentan terhadap gejolak ekonomi makro (pasar, bahan
baku, dll) sehingga perlu perlindungan, bantuan, bimbingan dan perhatian dari
pemerintah. Untuk itu perlu di cari beberapa upaya peningkatan ekonomi
masyarakat menengah ke bawah yang tentunya program peningkatan ekonomi tersebut
harus menyentuh langsung masayarakat menengah ke bawah. Tulisan ini mencoba
membahas program ekonomi yang langsung menyentuh masyarakat menengah ke bawah
yang penulis sebutkan sebagai program ekonomi kerakyatan.
Karena sebagian besar masyarakat
menengah ke bawah berada di Pedesaan maka tulisan ini juga memfokuskan konsep
ekonomi kerakyatan dalam rangka meningkatkan
ekonomi pedesaan. Seperti yang kita tahu
Kabupaten Subang sebagian besar merupakan daerah perdesaan dilihat secara administratif
maupun karakteristik wilayah.
Peningkatan Ekonomi Kerakyatan Perdesaaan merupakan
salah satu upaya dalam mewujudkan Desa JAWARA (Jaya, Istimewa & Sejahtera)
di Kabupaten Subang sesuai dengan Jargon Bupati dan Wakil Bupati Subang yaitu
mewujudkan Subang Jawara.
Untuk mewujudkan
Desa JAWARA pendekatan perwujudannya adalah memalui peningkatan Ekonomi
Kerakyatan Perdesaraan, sehingga Desa mempunyai Daya Saing (jaya), mempunyai
produk unggulan (istimewa) dan masyarakat/rakyat berperan langsung
(partisipatif) yang pada ujungnya masyarakat desa bisa makmur (sejahtera).Peningkatam
ekonomi Kerakyatan Perdesaan ini dapat di dorong dengan mewujudkan Desa yang
Mandiri.
Sebagai Gambaran
berikut ini disajikan salah satu Konsep untuk meningkatkan perekonomian desa dengan
mendorong desa untuk mandiri dalam mengelola perekonomiannya.
I.
DESA MANDIRI JAWARA
Kemandirian suatu
wilayah/daerah atau lebih fokus lagi daerah pedesaan sangat dipengaruhi oleh 3
(tiga) faktor kunci kemandirian, yaitu
1. Infrastruktur
2. Permodalan / Perekonomian Desa
3. Sumber Daya Manusia
Ketiga faktor kunci
tersebut menjadi generator agar suatu desa bisa mandiri mempunyai daya saing
yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa tersebut.
INFRASTRUKTUR
Infrastruktur
merupakan faktor pendukung utama peri kehidupan di desa. Infrastruktur tersebut
dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu infrastruktur yang sudah merupakan kebutuhan dasar masyarakat,
misalnya listrik, infrastruktur kesehatan, pendidikan, dll. Dan infrastruktur
yang membantu kegiatan perekonomian desa, misalnya jalan, irigasi, pasar, TPI
dll.
Desa mandiri
tentunya harus didukung selain
infrastruktur kebutuhan dasar juga harus didukung dan diprioritaskan oleh
infrastruktur yang dapat membantu perekonomian di desa. Keberadaan
Infrastruktur yang baik akan sangat berpengaruh baik terhadap produktifitas
desa secara keseluruhan maupun terhadap kinerja ekonomi desa secara khusus.
Penyediaan
Infrastruktur pada saat ini di dominasi dan menjadi tanggung jawab Pemerintah.
Masyarakat hanya menerima hasil infrastruktur tersebut. Keterlibatan masyarakat
sangat kecil sekali. Beberapa konsep penyediaan Infrastruktur dalam perpektif
Desa Jawara adalah pembangunan Infrastruktur Berbasis Partisipasi Masyarakat
antara lain :
- Pola pengerjaan Infrastruktur melibatkan masyarakat
setempat melalui program Padat Karya, sehingga masyarakat mempunyai penghasilan
tambahan.
- Pemerintah memberikan Stimulus Pembangunan Infrastruktur,
masyarakat membantu dalam hal tenaga kerja sehingga dapat menekan biaya
pembangunan Infrastruktur tersebut. Sehingga secara Kuantitas akan semakin
banyak infrastruktur yang dibangun.
- Memperbanyak pembangunan Infrastruktur yang dapat
meningkatkan perekonomian desa, contoh pembangunan jalan lingkung di desa/dusun
pengrajin atau dusun yang mempunyai produk ekonomi (Pengrajin keripik,
pengrajin sulam, dsb) agar proses pengangkutan hasil produksi bisa lancar.
- Melaksanakan Publik Private Parthership (kemitraan swasta
dan pemerintah) dalam pengadaan Infrastruktur di pedesaan. Bentuk kemitraan
pembangunan infrastuktur bisa memanfaatkan program CSR perusahan yang ada di
Kabupaten Subang.
PERMODALAN / PEREKONOMIAN DESA
Permodalan /
Perekonomian Desa merupakan KUNCI UTAMA Kemandirian Desa. Selama ini
Perekonomian Desa sering diabaikan. Desa dibiarkan secara sendiri membentuk
perekonomian desa tanpa ada bimbingan maupun pendampingan khusus dari
Pemerintah. Program-program ekonomi Pemerintah khususnya pemerintah pusat lebih
menekankan pada perekonomian yang dikuasai oleh swasta terutama ekonomi
menengah ke atas. Teori Trikle Down Efeck pada kenyataannya tidak memeratakan
roda perekonomian terutama pedesaan. Saatnya kini Desentralisasi perekonomian
di wilayah pedesaan yang merupakan sebagian besar wilayah Indonesia, Jawa Barat
dan Kabupaten Subang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dalam rangka
memeratakan kesejahteraan masyarakat.
Perekonomian Desa
dilaksanakan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing desa,
Potensi desa tersebut tentu saja harus di olah agar mempunyai nilai ekonomi,
untuk itu maka harus ada proses produksi (ekonomi) di desa. Penduduk Desa
mempunyai keterbatasan dalam proses produksi (ekonomi) tersebut, oleh karena
itu Pemerintah mempunyai peran yang sangat penting dalam proses tersebut.
Semakin baiknya
perekonomian desa maka Kemandirian suatu desa akan cepat dicapai.
Perekonomian Desa
merupakan Core dari Kemandirian Desa.
Selama ini Pemerintah lebih banyak menintervensi Infrastruktur. Perekonomian
Pedesaan dibiarkan tumbuh secara alami, padahal sektor perekonomian di luar pedesaan bergerak begitu
cepat dan sangat dinamis. Hal tersebut menyebabkan perekonomian desa menjadi
tertinggal, kalaupun ada proses produksi/perekonomian di desa, penduduk desa
hanya sebagai obyek, bukan sebagai subyek proses tersebut.
Dari ketiga kunci
kemandirian tersebut faktor permodalan/perekonomian yang sangat perlu di sentuh
oleh pemerintah.
Beberapa konsep
Perekonomian Desa dalam perpektif Desa Jawara antara lain :
- Perlu di cari dan dikelola bentuk produksi/perekonomian
yang berbasis potensi masing-masing desa, yang melibatkan seluruh lapisan
masarakat.
- Pendampingan terhadap masyarakat pedesaan dalam
melaksanakan perekonomian desa secara profesional (mulai dari bahan baku,
proses produksi, kemasan produk dan pemasaran).
- Memberikan modal bergulir bagi masyarakat pedesaan
- Memperkuat lembaga keuangan masyarakat desa yang bersifat
kebersamaan, misalnya BUMDES, Koperasi Unit Desa, Lumbung Desa, dll.
- Mengembangkan produk ekonomi masayarat desa secara
spesifik, misalnya dengan konsep one produk one village.
- Membuat Model atau Pilot Projeck pengembangan ekonomi
pedesaan
- Membantu pemasaran produk hasil ekonomi perdesaan melalui
kebijakan mewajibkan Waralaba, restaurant, tempat wisata menyediakan gerai
produksi ekonomi perdesaan.
- dll
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber Daya Manusia merupakan
prasarat atau kunci kemandirian desa yang paling berat. Kondisi saat ini
penduduk pedesaan mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, penduduk yang
mempunyai pendidikan tinggi banyak bekerja di kota besar, karena adanya
disparitas ekonomi antara desa dan kota orang cenderung bekerja di kota. Desa
bukan sesuatu yang menarik karena potensi yang ada belum bisa menghasilkan
nilai ekonomi yang tinggi.
Karena Sumber Daya
yang terbatas maka pendampingan penduduk desa terutama dalam perekonomian desa
mutlak harus dilakukan oleh Pemerintah.
Peran Perangkat Desa
mulai dari Kepala Desa, BPD beserta Jajajarannya sangat diperlukan dalam
menggerakan ekonomi perdesaan, wawasan stakeholter perdesaan tersebut harus di
beri pemahaman mengenai entrepeneur (kewirausahaan) bagaimana mengelola ekomomi
perdesaan. Program kewirausahaan desa ini harus menjadi issue politik dalam
pemilihan kepala desa.
Membentuk Sumber
Daya Manusia masyarakat pedesaaan merupakan pekerjaan yang sangat berat sekali
karena hal ini menyangkut pada perilaku (karakter) dari masyarakat, diperlukan
perubahan perilaku/karakter/cara pandang masyarakat dari yang tidak perduli
terhadap perekonomian masyarakat desa menjadi peduli terhadap kewirausahaan desa.
Selain pendidikan dasar juga pendidikan khusus yang bersifat produktif perlu
dikembangkan di pedesaan.
Beberapa konsep
Pengembangan Sumber Daya Manusia Masyarakat pedesaan dalam perpektif Desa
Jawara Berbasis pengembangan ekonomi perdesaan/kewirausahaan perdesaan antara
lain :
- Pelatihan entrepeneurship Aparat Desa
- Pelatihan proses produksi unggulan sesuai potensi desa
- Pelatihan Pengelolaan Lembaga Keuangan Desa.
- Mengiatkan Beasiswa bagi masyarakat pedesaan (Tiap tahun
ada warga desa yang diberi beasiswa oleh pemerintah).
- Memberikan Informasi perekonomian pada masayarakat
(misalnya produk yang sedang laku dipasaran, dll)
- dll
II.
APLIKASI KONSEP :
PEMBUATAN MODEL / PILOT PROJEK PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN
DI SETIAP DESA JAWARA MANDIRI SECARA MENYELURUH.
Secara Garis Besar
Konsep Desa JAWARA memalui kemandirian Desa telah di uraikan dalam bagian
terdahulu. Lalu bagaimana aplikasi dari Konsep tersebut, agar Konsep tersebut
bisa diwujudkan. Penulis mencoba salah satu Aplikasi Konsep yang sekiranya
dapat menjadi Generator Desa Jawara yaitu : PEMBUATAN MODEL / PILOT PROJEK PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN DI SETIAP
DESA JAWARA SECARA MENYELURUH.
Beberapa tahapan
pengembangan ekonomi perdesaan ini antara lain:
A. PENGELOLAAN MODEL
Secara Umum
Pembentukan Model Desa JAWARA ini dikoordinir oleh lembaga/instansi Pemerintah
yang menangani Perdesaan (Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa/ Bappeda/ Bagian
Pemerintahan). Setiap SKPD/ Dinas/ Instansi Pemerintah dan Perusahaan Swasta
yang mapan di Kabupaten Subang diberi tanggung jawab sebagai PENDAMPING/FASILITATOR
MODEL DESA JAWARA.
Pendampingan oleh
setiap SKPD dan Perusahaan ini merupakan wujud TANGGUNG JAWAB BERSAMA dalam
pembangunan, atau kalau perusahaan swasta merupakan salah satu wujud CSR
(Coorporate Sosial Responsibillity) yang sekarang menjadi kewajiban tiap
perusahaan.
Fasilitator tersebut
bersama-sama masyarakat menjadi aktor utama dalam pembentukan Desa JAWARA mulai
dari tahapan persiapan sampai dengan pelaksanaan. Fasilitator menjadi
Penghubung/kepanjangan tangan Instansi Utama yang mengelola Desa JAWARA secara
Keselurahan.
Secara Kuantitas
apabila ada 22 instansi dan 10 Perusahaan Besar yang menjadi Pendamping/Fasilitator
Pembentukan Desa JAWARA (1 fasilitator mendampingi 2 desa berdekatan) maka tiap
tahun ada 64 Desa yang didampingi dalam mewujudkan Desa JAWARA. APABILA
Kabupaten Subang mempunyai 245 Desa dan 8 Kelurahan (253) maka program ini bisa
tuntas dalam 4 tahun, tau kalau ada percepatan bisa dilaksanakan dalam 3 tahun.
Secara diagramatis
organisasi pengelolaan Desa Mandir sebagai berikut :
![]() |
![]() |
B. PEMBERIAN KEMAMPUAN DAN PENYAMAAN PERSEPSI FASILITATOR
Fasilitator sebelum
terjun kelapangan tentu saja harus diberi bekal apa yang akan dilaksanakan
dilapangan. Oleh sebab itu Fasilitator harus diberi kemampuan dan penyamaan
persepsi.
Pemerintah Daerah
melalui Instansi Utama Pengelola Desa JAWARA bisa saja dengan BUMD/Akademisi
membentuk Manager secara Profesional dalam meningkatkan Ekonomi Desa JAWARA
tersebut, sehingga visi ekonomi Desa JAWARA akan terarah dan jelas.
Manajer ini menjadi
tempat Diskusinya bagi fasilitator dalam mewujudkan desa JAWARA. Karena
Fasilitator mungkin saja kurang dalam kemampuan bidang ekonomi perdesaan.
C. PENENTUAN POTENSI EKONOMI PERDESAAN
Setiap desa mempunyai potensi dan permasalahan ekonomi yang
berbeda untuk itu perlu adanya penetuan potensi apa yang mempunyai nilai
ekonomi bagi masyarakat desa tentu saja sesuai dengan sumber daya yang ada. Fasilitator/pendamping
desa, masyarakat dan instansi utama pengelola Desa JAWARA bersama-sama
menentukan potensi ekonomi perdesaan tersebut. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dala tahapan ini antara lain :
§ Berapa jumlah penduduk miskin dan bagaimana kemampuan SDM
penduduk desa tersebut (pertanian, kerajinan, manufaktur,dll).
§ Potensi ekonomi yang akan di kembangan sampai dengan
pemasarannya.
§ Sumber daya alam/buatan apa yang bisa dikembangkan dan
mempunyai nilai ekonomis bagi masyarakat perdesaan.
§ Pendataan Infrastruktur pendukung kegiatan perekonomian
desa.
D. ANALISA EKONOMI POTENSI PERDESAAN DAN PELAKSANAAN
Setelah ditentukan
Potensi Perdesaan yang akan dikembangkan maka dilakukan analisis mulai dari
proses produksi, permodalan, Penyiapan Sumber daya manusia dan pemasarannya
bagaimana.
Setiap tahapan roda
perekonomian perdesaan ini harus didampingi oleh fasilitator sampai dengan
masyarakat bisa secara mandiri menjalankan roda perekonomiannya.
Dalam pelaksanaan
pengembangan ekonomi perdesaan ini harus ada transfer pengetahuan dari
manajer/fasilitator kepada masyarakat.
Secara ekonomi
proses produksi/ekonomi ini penulis tidak akan membahas lebih jauh karena
pengetahuan terbatas penulis dalam bidang ekonomi. Akan tetapi penulis tekankan
bahwa proses produksi/ekonomi ekonomi dasa ini peranannya sangat vital dalam
mewujudkan Desa JAWARA.
E. PEMBERIAN MODAL BERGULIR BAGI DESA JAWARA
Selama ini bantuan
Pemerintah Daerah kepada Desa yang terekspose kebanyakan mengenai pengadaan
infrastruktur. Pada Program ini selain infrastruktur juga perlunya digalakan
pemberian Modal Bergulir pada masyarakat perdesaan. Karena setiap bentuk perekonomian di awali
oleh penyediaan Modal. Pemberian Modal Bergulir ini tentu saja harus dikawal
secara ketat agar dalam pelaksanaannya tidak melenceng dari sasaran.
Selama ini akses
terhadap permodalan bagi masyarakat pedesaan sangat sulit sekali. Selain
pemberian modal bergulir juga harus diberikan kemudahan bagi akses modal
lainnya (misalnya akses kredit lunak dari Bank Pemerintah atau BPR).
F. PENTAHAPAN PEMBENTUKAN PEREKONOMIAN DESA JAWARA
Tahapan Pembentukan
Desa Mandiri ini mungkin tidak bisa tuntas dalam satu tahun saja, tergantung
pada masing-masing potensi tiap desa. Akan tetapi tahapan tersebut harus jelas
sehinggga pemerintah bisa mengukur tolak ukur keberhasilannya.
Tahapan pelaksaanaan
ini dilakuka secara berjenjang mulai tahap persiapan, pelaksanaan dan pasca
pelaksanaan model/pilot projek. Manajer/fasilitator dan masyarakat harus dapat
menjelaskan dan melaksanakan tahapan pembentukan Desa JAWARA ini secara jelas.
G. PASCA PILOT PROJEK
Pembentukan Model
Perekonomian Perdesaan Desa JAWARA ini tentu saja harus di evaluasi dalam
setiap tahap. Dan diharapkan setelah pilot projek desa tersebut harus dapat
berdiri sendiri tanpa bentuk pendampingan lagi. Pemerintah hanya memberikan
pendampingan secara umum saja. Diharapkan Pembentukan Pilot/Model Projek ini
dapat dilaksanakan di seluruh Desa di Kabupaten Subang secara bertahap


Komentar
Posting Komentar