PROLOG
Menarik untuk disimak, ketika Kang Dedi Mulyadi Terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat tahun 2024. Beliau secara konsisten mulai dari kampanye sampai dengan terpilih menjadi Gubernur Jawa Barat, Selain mengusung Tagline Jawa Barat Istimewa juda di barengi dengan Tagline lain yaitu “LEMBUR DIURUS, KOTA DITATA”.
Pemilihan Tagline “LEMBUR DIURUS, KOTA DITATA” sangat menarik untuk di kupas lebih dalam lagi. Sudah banyak yang membahas Tagline JABAR ISTIMEWA, tetapi masih sedikit yang membedah LEMBUR DIURUS, KOTA DITATA. Penulis mencoba untuk membahas tag line tersebut berdasarkan opini pribadi penulis. Mudah-mudahan Kang Dedi Mulyadi memberikan tanggapan atas tulisan ini.
Diksi (Pemilihan kata) “ LEMBUR DIURUS, KOTA DITATA” secara harfiah mengandung 2 (dua) makna dan 2 (dua) obyek yang menjadi perhatian, yaitu “Lembur” dan “Kota” serta kata kerja yang mengikuti obyek tadi yaitu “Diurus” dan “Ditata”.
Lembur Diurus, Kota ditata merupakan Kecap Kantetan anu Murwakanti (kata majemuk yang dibentuk dari dua unsur dasar yang memiliki kesamaan sora atau kekecapan).
Selain Kecap Kantetan anu Murwakanti. Lembur Diurus, Kota ditata juga apabila kita cermati mengandung perbedaan perlakuan antara Lembur dan Kota, yaitu kalua Lembur Diurus dan Kota Ditata.
LEMBUR DIURUS
LEMBUR merupakan Bahasa Sunda yang artinya Kampung atau Desa. Kampung adalah kesatuan lingkungan tempat tinggal yang dihuni oleh sekelompok masyarakat. Kampung juga dapat diartikan sebagai nama alternatif untuk desa. Biasasnya masyarakatnya didominasi oleh pekerjaan, pertanian, peternakan atau perikanan dengan tingkat kepadatan penduduk yang rendah. Desa merupakan bentuk Otonomi Pemerintahan terkecil di Indonesia hal ini ditandai dengan system pemilihan Kepala Desa yang dilakukan secara langsung oleh Masyarakat dan diberi alokasi dana Pembangunan oleh Pemerintah Pusat.
Kang Dedi Mulyadi tentu sangat paham dengan Mengurus Lembur/Desa, karena beliau dilahirkan dan dibesarkan di Lembur/Desa di Kabupaten Subang, juga pernah menjabat sebagai anggota DPRD, DPR dan Bupati Purwakarta. Ketika menjabat Bupati Kabupaten Purwakarta, Pembangunan Desa sangat diperhatikan sehingga wajah-wah desa pada waktu itu sangat berubah dratis menjadi lebih baik lagi, infrastruktur di desa sangat diperhatikan. Ketika beliau sudah tidak menjabat Bupati Purwakarta dan tinggal di Kecamatan Dawuan Subang (Ketika menjabat anggota DPR RI), sentuhan Kang Dedi Mulyadi juga sangat terlihat Ketika Lembur/Desa tempat tinggal beliau beralih rupa menjadi sangat Asri, Bersih dan camperenik. Lembur tersebut terkenal dengan sebutan Lembur Pakuan.
Pemilihan Diksi Lembur Diurus selain kata/kecap kantetan nu Murwakanti menitik beratkan bahwa Lembur harus Diurus. Sebagai Masyarakat awam pemilihan kata “Diurus” sering kita temui dikehidupan sehari-hari, contoh kalimat : Mang Panguruskeun Kebon. Kalimat mengurus kebon mengandung arti memelihara kebun mulai dari menanam pohon, merawat, memberi pupuk, menyiangi rumput supaya bersih sampai dengan memanen hasil tanaman. Mengurus mengandung arti mengelola semua hal berkaitan dengan kebun. Begitu pula dengan Lembur atau Desa, megurus lembur mengandung arti memanagement/mengelola Desa.
Pengelolaan Lembur/Desa di Indonesia sebenarnya sudah tersedia baik secara perangkat lunak dan keras. Kita ketahui mulai dari Tingkat Pusat sampai ke daerah sudah ada Institusi yang mengurus masalah Desa, mulai dari Kementrian Desa, Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Propinsi dan Kaabupaten), sampai dana untuk mengelola desapun sudah tersedia melalui dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat. Aturan maupun kebijakan pengelolaan desa sudah banyak disusun oleh pemerintah pusat.
Masalah Utama menurut penulis adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang mengelola Desa di lapangan dalam hal ini Kepala Desa. Ketika prinsip-prinsip management pengelolaan desa diterapkan dengan baik ditambah dengan entrepreneurship Kepala Desa yang baik, maka Desa itu akan menjadi baik. Banyak Contoh Desa yang maju (best practice) yang dikelola oleh Kepala Desa yang baik.
Provinsi Jawa Barat yang Sebagian besar masih merupakan wilayah Pilemburan/Perdesaan ditambah dengan anugerah dari Tuhan Alam yang cukup Subur dan menarik (Tempat Wisata), mempunyai potensi yang sangat besar dalam membangkitkan perekonomian di Jawa Barat. Kang Dedi melihat potensi itu dengan mencetuskan tagline “Lembur Diurus”, sehingga Desa bisa menjadi generator Pembangunan di Jawa Barat, selama ini perhatian Pembangunan Ekonomi banyak bertumpu di Kota dengan perdagangannya, perindustriannya, perkantorannya ataupun Sarana Pendidikannya. Sehingga budaya urbanisasi dari desa ke kota tetap menjadi masalah utama, karena Masyarakat di desa susah mencari penghidupan yang layak. Padahal kebutuhan kehidupan di kota asalnya semua dari desa.
Beberapa kajian pengembangan ekonomi di desapun sudah banyak kita ketahui, mulai dari Pembangunan Desa Tematik (Desa Wisata, Desa Agro, Mina Desa, dll), one produk one village (satu desa satu produk), dll. Untuk mengembangkan perekonomian desa dibutuhkan Kepala Desa yang mempunyai Entreupreuneurhip yang baik sehingga bisa mengembangkan desa melalui optimalisasi sumber daya alam yang dimiliki desa. Pemerintah Kabupaten dan Provinsi harus bisa memberikan bimbingan maupun stimulan dalam pengembangan ekonomi desa. Mengurus desa tidak hanya membangun fasilitas fisik desa semata tetapi juga harus membangun fasilitas fisik yang bisa membantu perekonomian desa tersebut. Mudah-mudahan Kang Dedi bisa memunculkan Lembur Pakuan – Lembur pakuan yang lain di Jawa Barat. Menjadi tugas bagi aparatur pemerintah yang membantu Kang Dedi memimpin Jawa Barat untuk memformulasikan kebijakan “Mengurus Lembur”, agar sesuai dengan yang diharapkan.
KOTA DITATA
Tagline “KOTA DITATA” selain merupakan kata/kecap kantetan nu Murwakanti, kata Ditata sedikit mengandung perbedaan dengan kata Diurus. Sering kita mendengar kalimat : Tolong tata rumah, atau ruang tamu. Secara sederhana menata berarti mengatur, menempatkan tempat ditempat yang sesuai, menambah estetika, mempermudah kita menggunakan sesuatu, dll.
Provinsi Jawa Barat sebagai Provinsi yang berbatasan denga Kota Jakarta, secara fisik dan administrasi banyak yang terbentuk sebagai Kota, malahan banyak yang membentuk anglomerasi kota sepeti BODEBEK, Bandung Raya, Purwasuka, dll. Secara Fisik Kota di Provinsi Jawa Barat cukup banyak dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Hal ini menjadi perhatian Kang Dedi Mulyadi sehingga selain mengurus Lembur juga Menata Kota.
Mengapa Menata Kota menjadi salah satu perhatian ???
Dalam teori Penataan kota pengertian tata Kelola perkotaan merupakan hal yang sangat penting dan kompleks tidak sesederhana yang kita pikirkan. Tata Kelola Perkotaan pada prinsipnya adalah bagaimana menata kota agar Masyarakat bisa hidup dengan nyaman dengan segala aktifitas yang dilakukan oleh semua Masyarakat. Hal ini berarti pengelolaan menyangkut aspek Perekonomian, Transportasi, Kesehatan, Keindahan, Sosial, Budaya dll.
Dari pernyataan di atas Penataan Kota selain dilaksanakan oleh Pemerintah yang lintas sektor, juga melibatkan pihak Swasta dan Masyarakat sebagai obyek yang mengisi Kawasan perkotaan tersebut. Selama ini salah satu kelemahan dari penataan Kota adalah memaduserasikan multi sektor tersebut. Dibutuhkan Pemerintah yang kuat untuk membuat Guideline Penataan Kota baik dari aturan maupun implementasinya.
Yang dimaksud Tata Kelola Perkotaan menurut Buku Panduan Praktis Implementasi Agenda baru Perkotaan yang disusun oleh Kementerian PUPR, yaitu :
- Merupakan proses yang terbentuk berdasarkan hasil interaksi aktor-actor pembangunan di kota.
- Membicarakan bagimana para actor pembangunan mengambil Keputusan terkait cara mereka merencana, membiayai, dan mengelola hal-hal terkait perkotaan.
Secara implementatif penataan kota di Indonesia dalam prakteknya susah sekali menata kota secara terpadu karena Kota terbangun oleh banyak sektor dan actor. Terlebih di Indonesia Penataan Kota menempel pada Kementerian PU, tidak seperti Desa yang ada ada Kementerian khusus Desa. Di Tingkat Daerah Juga tidak ada Dinas Tata Kota seperti dahulu. Ketika penataan kota ditempelkan pada Dinas PU, maka pelaksanaannya tidak terlalu Fokus, karena pekerjaan Dinas PU juga sangat komplek.
MENGAPA TATA KELOLA PERKOTAAN ITU PENTING
(Panduan Praktis Implementasi Agenda baru Perkotaan yang disusun oleh Kementerian PUPR).
- Membentuk karakter fisik dan sosial dari kawasan perkotaan
- Berdampak pada jumlah dan kualitas pelayanan publik di Tingkat local.
- Menentukan sistem pembiayaan dalam pembangunan perkotaan
- Mempengaruhi kemampuan masyarakat yang tinggal di perkotaan dalam mengakses pemerintahnya
- Mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambila keputusan
- Menentukan apakah pemerintah akuntabel terhadap Masyarakat dan mampu merespon kebutuhan Masyarakat
Selain memadu serasikan antar sektor dan aaktor dalam rangka Pembangunan dan penataan perkotaan, seharusnya Kota-kota di Jawa Barat menpunyai Jati Diri (Citra Kota) yang membedakan dengan Kota-kota di luar Jawa Barat, karena Kang Dedi sebagai Gubernur Jawa Barat mempunyai Tag lain lain yaitu Jawa Barat ISTIMEWA. Kata Istemewa harus bisa di implementatifkan dalan penataan kota di Jawa Barat, salah satunya dengan menerapkan konsep Jati Diri Kota (Citra Kota).
Konsep mengenai Citra Kota bisa diakomodasi dari beberapa konsep perkotaan yang sudah ada, salah satunya dari Lynch, (1975: 6-8) dalam bukunya “The Image of The City”.
Citra/kesan/wajah pada sebuah kota merupakan kesan yang diberikan oleh orang banyak bukan individual. Citra kota lebih ditekankan pada lingkungan fisik atau sebagai kualitas sebuah obyek fisik (seperti warna, struktur yang kuat, dll), sehingga akan menimbulkan bentuk yang berbeda,bagus dan menarik perhatian.
Elemen pembentuk citra kota menurut Kevin Lynch adalah:
- Path (Jalur/Jalan), Contoh : Jalan dengan elemen street furniturenya, jalur kereta api, dll.
- Edges (Batas/akhiran), Contoh : Gerbang Batas Kota, Batas Kawasan.
- Distrik (Kawasan), Contoh : Kawasan Pusat Kota, Kawasan alun-alun, dll.
- Nodes (simpul, tempat pertemuan beberapa arah), Contoh : Perempatan Jalan, Alun-alun, Taman kota, dll.
- Landmark (tetengger), Contoh : Tugu atau Patung (Sculpture), dll
Penguatan Citra Kota di Jawa Barat tentu saja harus disesuaikan dengan Kearifan Lokal yang dipunyai masing-masing wilayah yang ada di Kabupaten yang ada di Jawa Barat.
Mudah-mudahan Gubernur Kang Dedi Mulyadi, dengan pengalamannya dalam menata Kota Purwakarta dan Kearifan Lokal yang dimiliki beliau bisa mengubah dan menata kota-kota di Jawa Barat agar lebih Istimewa dibandingkan kota di Provinsi lain di Indonesia.
Prung geura makalangan bapak gubernur jawa barat kang dedi Mulyadi
Mudah-mudahan lembur sareng kota di jawa barat merenah, tumaninah tur gandang sareng istemewa.
Komentar
Posting Komentar